separate
logo

Jan 4, 2009

meidy

Menelusuri Kemolekan Singkawang

i silawang

Berkunjung ke Kalimantan Barat belum terasa lengkap bila tak menyempatkan diri singgah ke Kota Singkawang. Kota perniagaan yang terkenal dengan amoy-nya atau perempuan cantik keturunan Tionghoa ini menyimpan ragam potensi wisata untuk ditelusuri.

Keindahan alam hutan dan laut didukung mulusnya infrastruktur jalan menjadikan perjalanan darat sepanjang 145 kilometer dari Kota Pontianak menuju Singkawang berasa menyenangkan.

Kota ini tak sekadar menawarkan lanskap wisata sejarah keberadaan masyarakat keturunan China tetapi juga keindahan alam hingga wisata kuliner yang patut dicoba.

Singkawang berasal dari kata dari San Khew Jong, yang mengacu pada tata letak kota dengan perbukitan, laut, dan muara. Selain keindahan alam, keramah tamahan masyarakat Singkawang menjadikan kota ini penuh kehangatan, khususnya bagi wisatawan.

Menjadi hunian bagi sekitar 200.000 jiwa, sebagian besar (62%) populasi Singkawang adalah masyarakat keturunan China. Etnis lain tentu saja ada, seperti Melayu, Dayak, Jawa, dan lainnya.

 

7833_100428429978105_2859338_n

Julukan kota beribu Vihara memang tepat untuk Singkawang. Banyaknya vihara besar dan kecil di beberapa sudut kota menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat China mendominasi kehidupan dan budaya setempat.

Sebut saja Vihara Raya dan Vihara Chikung yang terletak di pusat kota, menjadi destinasi wisata religi dan sejarah bagi para pelancong. Keragaman etnis China mendiami Singkawang, mulai dari Hakka, Teo-chew, Hokkian, Hainan dan beberapa suku China lainnya.

Bagi pelancong domestik, kehangatan warga China yang kesehariannya mengandalkan bahasa China Hakka seakan menyambut kita pada saat berbelanja.

Menariknya, toko-toko yang ada Singkawang didominasi bangunan tua, persis seperti China Town di Singapura.

Pertokoan model ruko dengan desain bangunan zaman dulu yang sebagian masih dijaga keasliannya dapat dijumpai di Singkawang. Lanskap pusat perpelanjaan tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.

Bicara kemolekan kota, Singkawang dihiasi oleh pesona Gunung Roban yang terletak 4 km ke arah timur dari pusat kota. Sementara keaslian dan keunikan flora Raflesia dapat dijumpai di Batu Belimbing, Gunung Poteng, yang merupakan sumber mata air Singkawang.

Vila Bukit Mas yang bernuansa resor dan taman tumbuhan Bukit Bougenville yang berjarak 6 km arah selatan dari pusat kota, menjadi salah satu lokasi wisata alam favorit para pelancong.

Ingin menikmati pantai? Singkawang memiliki pantai Pasir Panjang yang dilengkapi resor untuk menginap. Pantai ini hanya berjarak sekitar 17 km dari jantung kota.

Tak hanya itu, Sungai Hangmoy yang sering dijadikan tempat mandi bagi warga China Hakka, dan Teratai Indah dengan pemandangan danau yang indah, menambah deretan tujuan rekreasi di Singkawang.

Mereka yang suka makanan China, di sinilah gudangnya. Karena memang makanan China mendominasi restoran atau warung makan biasa. Makanan unik yang bisa kita nikmati seperti rujak ju hie, rujak dengan cumi kering-salah satu jajanan terenak di Singkawang.

Ada juga tahu dengan buncis dadih, makanan favorit masyarakat Kalimantan Barat. Selain itu, ada juga kembang tahu. Ini adalah panganan tahu yang halus sekali dengan siraman saus gula, menjadikan makanan ini sangat populer

Jadi, apa lagi yang kalian tunggu??? singkawang menunggu kedatangan kalian semua!!!

meidy

Belajar Bahasa Hakka (Bagian I - Numbers)

Bahasa Hakka, pada dasarnya memiliki logat atau dialek yang hampir sama dengan
logat atau dialek Mandarin. Sebagian kosa kata Bahasa Hakka pun hampir sama
dengan kosa kata dalam Bahasa Mandarin.
Nah meidy kali ini mau ajarin angka-angka dalam bahasa Hakka.
Selamat belajar!!!
Hou / Hou Ma (Angka):
0 = Lang
1 = Jit
2 = Nyi
3 = Sam
4 = Si
5 = Ng
6 = Liuk
7 = Chit
8 = Pat
9 = Kiu
10 = Sip
Untuk angka belasan, adalah gabungan angka 10 (Sip) dengan satuan:
11 = Sip jit
12 = Sip nyi
13 = Sip sam
14 = Sip si
15 = Sip ng
16 = Sip liuk
17 = Sip chit
18 = Sip pat
19 = Sip kiu
Untuk angka puluhan seperti 20, 30, 40, 50 sampai 90 menggunakan gabungan angka
satuan dengan angka 10 (Sip):
20 = nyi sip
30 = sam sip
40 = si sip
50 = ng sip
60 = liuk sip
70 = chit sip
80 = pat sip
90 = kiu sip
Untuk angka 21-29, merupakan gabungan angka 20 (nyi sip) dengan angka satuan:
21 = nyi sip jit
22 = nyi sip nyi
23 = nyi sip sam
24 = nyi sip si
25 = nyi sip ng
26 = nyi sip liuk
27 = nyi sip chit
28 = nyi sip pat
29 = nyi sip kiu
Metode di atas dipakai untuk angka 31-39:
31 = sam sit jit
32 = sam sit nyi
33 = sam sit sam
34 = sam sit si
35 = sam sit ng
36 = sam sit liuk
37 = sam sit chit
38 = sam sit pat
39 = sam sit kiu
Untuk angka 41-49, menggunakan gabungan 40 (si sip) dengan satuan, 51-59
gabungan dari 50 (ng sip) dan satuan, dst sampai 99.
Contoh:
68 = liuk sip pat
53 = ng sip sam
47 = si sip chit
79 = chit sip kiu
82 = pat sip nyi
91 = kiu sip jit
100, 200, … = yit-pak, liong-pak,...
1000 = yit-chien
10000 = yit-wan
100000 = yit-pak-chien / sip-wan (seratus ribu ATAU sepuluh-sepuluh ribuan)
1 juta = yit-thiau
jadi,1500 = yit-chien-eng-pak
2550 = liong-chien-eng-pak-eng-sip
Udah segitu dulu, nanti Meidy ajarin lebih lanjut di Belajar Bahasa Hakka Bagian II, belajar yang rajin ya biar bisa bahasa Hakka.

Dec 15, 2008

meidy

Singkawang, "China Town" di Bumi Borneo

 7833_100446913309590_6154184_n

         Singkawang sering disebut sebagai kota seribu klenteng. Kota yang berada di Kalimantan Barat ini mempunyai ikatan yang erat dengan China, baik dari sejarah maupun budaya maupun kehidupan bermasyarakat. Tak heran jika Singkawang disebut-sebut mewakili "Chian Town" yang ada di bumi nusantara.
Di tanah seluas 50.000 ha ini, total populasi penduduk di Singkawang lebih dari 190.000 jiwa, separuhnya beretnis Tionghoa dan berdiri kokoh sedikitnya 600 klenteng. Konon, pada abad 18, kota tersebut merupakan tempat transit para penambang emas yang berasal dari Tiongkok. Gelombang migrasi besar-besaran pada tahun 1760, membawa masyarakat suku Tionghoa Hakka dari Guangdong China selatan yang mendarat di Pulau Kalimantan. Daerah tempat persinggahan ini kerap disebut sebagai "San Kew Jong" yang lama kelamaan berubah bunyi menjadi Singkawang.
Para pekerja tambang ini berasumsi, dari sisi geografis bahwa Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai menuju ke muara laut. Melihat perkembangan Singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sebagian besar penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di kota tersebut. Tak sedikit para penambang tersebut yang akhirnya tinggal dan menetap di Singkawang.

Adat Leluhur

         Meski secara fisik maupun budaya ada yang berasimilasi dengan penduduk pribumi, mereka juga tetap mempertahankan adat istiadat leluhur yang dipertahankan hingga kini. Karena pada umumnya mereka penganut Kong Hu Cu dan Buddha maka perayaan Tahun Baru China menjadi tradisi istimewa yang senantiasa mereka rayakan.
Saat perayaan Tahun Baru Cina dan Cap Gomeh berlangsung, Singkawang yang juga kaya potensi wisata alamnya ini menjadi kota yang paling ramai untuk merayakannya. Banyak kegiatan-kegiatan atraktif dilaksanakan dalam acara ini mulai dari pertunjukan barongsai, pawai tatung, bakar kapal/perahu naga, pertunjukan seni tari dan sebagainya. Tidak heran, saat suasana Imlek biasanya kota mungil itu mampu menyedot wisatawan dari manca negara.
Seperti halnya tradisi etnis Tionghoa di Semarang, bagi warga peranakan di Singkawang perayaan Imlek selalu dirayakan selama 15 hari berturut-turut dan hari puncak ke-15 disebut dengan Cap Go Meh. Dalam tradisi Tionghoa berarti malam ke-15 yang merupakan puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh dirayakan secara khusus. Jika ditelaah kembali, Cap Go Meh di Indonesia sendiri merupakan perpaduan budaya Tiongkok dan Indonesia, yakni adanya lontong Cap Go Meh. Lontong adalah makanan asli Indonesia, sedangkan Cap Go Meh adalah tradisi yang lahir dari Imlek.

Sep 13, 2008

meidy

Melacak Sejarah (Tionghoa) Singkawang

 

Singkawang yang disebut sebagai kota seribu kuil, Hongkongnya Indonesia ataupun yang lebih nyentrik lagi diistilahkan sebagai kota amoy, menawarkan sensasi oriental di setiap sudut kotanya. Kentalnya nuansa oriental ini tercermin dari mayoritas penduduknya yang beretnis Tionghoa (Khek/Hakka) dan dalam keseharian bahasa Khek menjadi lingua franca diantara penduduknya, dan tidak sedikit kelompok etnis lain (pribumi) juga menggunakannya.


Suku bangsa – subetnis – Khek/Hakka ini oleh Skinner (1979: 6) disebut sebagai salah satu golongan bahasa (speech group) dari tiga golongan bahasa Tionghoa terbesar yang ada di Indonesia (Hokkian, Hakka, Kanton), merupakan salah satu pemilik “asli” Singkawang. Kepemilikan atas Singkawang ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Khek itu sendiri di Kalimantan (Borneo).

Kedatangan orang-orang Tionghoa ke Nusantara – salah satunya ke Borneo – bisa dilihat dari empat pola migrasi sebagaimana disebutkan oleh Gung Wu (2000: 4-10), yaitu pertama, perdagangan (huashang) yang terdiri dari para saudagar, para pekerja seperti penambang dan pekerja-pekerja terampil yang pergi ke luar negeri dan termasuk juga anggota keluarga mereka sendiri yang bekerja untuk mereka dan kemudian membentuk basis di pelabuhan, penambangan dan di kota-kota perdagangan.

Kedua, menjadi kuli (coolie atau Huagong) merupakan migrasi sejumlah besar para pekerja kuli yang biasanya terdiri dari para petani, pekerja yang tidak mempunyai tanah dan para penduduk urban yang miskin.

Ketiga, perantauan (Huaqiao) berarti para perantau yang bukan termasuk golongan pedagang dan kuli melainkan para guru, jurnalis, dan golongan-golongan profesional yang pergi ke luar Cina untuk meningkatkan kesadaran akan kebesaran budaya Cina dan untuk tujuan nasionalisme.

Dan pola keempat adalah re-migrasi orang-orang Cina atau keturunanya dari negara yang sudah didiami ke negara-negara lain (Huayi). Apabila mengacu pada empat pola tersebut, maka awal keberadaan orang-orang Khek di Borneo setidaknya mewakili pola huagong menjadi kuli (coolie) di berbagai pertambangan emas dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas. Selama gelombang perpindahan yang besar dari tahun 1850 sampai 1930, orang-orang Hakka (Khek) merupakan imigran yang paling melarat dari Tiongkok. Sampai sekarang orang Hakka paling banyak diantara orang Tionghoa di bekas disrik tambang emas di Kalimantan Barat (Skinner, 1981: 7).

Hubungan antara China dengan Kalimantan (Borneo) sudah ada sejak abad ke 9 M (Purwanto, 2005: 40). Sedang kedatangan orang-orang Tionghoa ke Kalimantan Barat (Borneo Barat) terjadi pada abad ke 13-14 M (Sikwan&Harni, 2004: 19). Orang-orang Khek ini yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan Borneo sejak kedatangannya. Disebutkan bahwa ketika kedatangan orang-orang Tionghoa ini, kehidupan masyarakat di Borneo sangat sederhana, karena itu oleh Abdul Rachman I kelompok Tionghoa ini bersama dengan Melayu dan Bugis diminta untuk membangun dan mengembangkan sebuah kota (Setiono, 2008: 191). Tidak dijelaskan secara spesifik dalam tulisan tersebut nama kota yang “diberikan” oleh Penguasa saat itu kepada tiga kelompok etnik di atas.
Menapaktilas Jejak “Republik Lanfang”


Menilik dari berbagai catatan mengenai seorang tokoh berpengaruh yaitu Lo Fong (Pak) yang mana disebut sebagai founding father sebuah Kongsi (Kung sie) terkenal Lanfong, Singkawang sedikit banyak berusaha dikaitkan dengan kongsi Lanfong tersebut. Namun sebenarnya, belum terdapat bukti historis yang objektif mengenai hubungan antara “Republik Lanfong” Lo Fong (Pak) dengan keberadaan Singkawang. Sebut saja tulisan dari Lie Sau Fat (2008: 3) yang menggambarkan heroisme seorang Lo Fong (Pak) ketika pertama kali menginjakkan kakinya di tanah harapan (Kalbar/west Borneo) dengan memimpin sekitar lebih dari seratus laki-laki untuk mengadu nasib dengan mencari pertambangan emas. Akhirnya diceritakan kalau Lo Fong (Pak) dan “pasukannya” menemukan tambang emas di Mandor dan kemudian membentuk Lan Fong Kung Sie.

Tulisan Lie Sau Fat tersebut tampaknya mengenyampingkan fakta historis mengenai awal kedatangan orang-orang etnis Tionghoa di Borneo sebagai kelompok kuli kontrak yang dipekerjakan di beberapa daerah pertambangan emas seperti Larah dan Montrado oleh Sultan Sambas Umar Akamuddin (Sikwan&Triastuti, 2004: 19). Saat kedatangannya, Lo Fong (Pak) bersama orang-orang Tionghoa lainnya menjadi pekerja tambang emas, dan selanjutnya membangun “dinastinya” di Mandor.


Sikwan dan Triastuti (2004: 21) menyebut bahwa bertambahnya konsentrasi orang-orang Tionghoa di Singkawang tidak terlepas dari pemberontakan yang dilakukannya terhadap Kesultanan Sambas pada tahun 1760. Setelah konflik tersebut orang-orang Tionghoa yang ada di berbagai daerah pedalaman Kalbar (Kesultanan Sambas) “diusir” ke Singkawang. Hal ini mengindikasikan kalau keberadaan Singkawang sudah ada jauh sebelum terbentuknya Kongsi Lanfong, yang didirikan oleh Lo Fong (Pak) tidak lama setelah mendarat di Borneo pada tahun 1772. Pendirian Kongsi Lanfong ini tidak jarang menggunakan jalan kekerasan untuk menaklukkan kongsi-kongsi lain sehingga bernaung di bawahnya.

Secara khusus dalam salah satu bab dari bukunya yang super tebal, Setiono (2008) menyebut Kongsi Lanfong layaknya sebuah “Republik” yang mengakamodasikan kepentingan dari anggota-anggotanya yang ada di Borneo. Kepengurusannya berdasar atas kaidah-kaidah demokrasi, dengan mengutamakan mufakat dan pemilihan langsung dalam penentuan pemimpin dan kepengurusannya. Wilayah Mandor setelah ditaklukkan oleh Lo Fong (Pak), dijadikan sebagai “pusat” dari Republik Lanfong yang dipimpinnya. Republik Lanfong berdiri secara resmi pada tahun 1777.

Selama diperintah oleh (Tai Ko) Lo Fong – Tai Ko adalah sebutan untuk jabatan tertinggi dalam Republik Lanfong yang berarti Kakak Tertua – kekuasaan Republik Lanfong ini meliputi Pontianak, Mempawah dan Landak (Lontaan, 1975: 250).


Bagaimana dengan Singkawang? Di dalam kekuasaan Republik apakah Singkawang? Lontaan (1975: 251) hanya sedikit menyebut bahwa setelah kematian Lo Fong (Pak) pada tahun 1795, terjadi perang antara Taikong Kongsi yang beribukota di Montrado dengan Sam Tiu Kiu Kongsi yang beribukota di Sambas. Adapun sebab dari pertempuran tersebut adalah karena Kongsi Sam Tiu Kiu melakukan penggalian emas di wilayah Sei Raya (Singkawang) yang mana merupakan masuk wilayah kekuasaan Taikong Kongsi Montrado. Dari penuturan tersebut jelas kalau dulunya Singkawang masuk dalam wilayah kekuasaan Republik Taikong yang berpusat di Montrado. Montrado ini lahir dan berkembang jauh lebih dulu daripada Singkawang, apalagi setelah berdirinya Kongsi Taikong (Republik Taikong) tersebut pada tahun 1745.

Menyitir dari Liu (2008: 84), tidak salah apabila kemudian orang-orang menyebut bahwa “sebelum ada Singkawang, sudah ada Montrado”.
Singkawang – San Kew Jong – memang sampai sekarang susah dilacak kapan tahun persisnya berdiri. Apabila berdasar atas fakta sejarah terbentuknya kongsi-kongsi awal di wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas – salah satunya Kongsi Taikong Montrado yang berdiri tahun 1745 – maka bisa dipastikan kalau Singkawang sudah ada sejak pertengahan abad ke 18. Sebagaimana diakui oleh salah seorang Budayawan senior Singkawang (M.J. Mooridjan) dalam sebuah obrolan sore pada hari Rabu, 3 September 2008 yang lalu, beliau menyatakan bahwa Singkawang dulunya sudah pasti sebuah daerah hinterland, daerah yang berada di luar pusat kekuasaan (Sambas dan Montrado).

Namun, meskipun demikian Singkawang ini menjadi salah satu tujuan (transit) dari orang-orang Tionghoa yang menjadi buruh dan kuli pertambangan emas dalam kuasa Kesultanan Sambas. Lambat laun Singkawang ini semakin tumbuh dan berkembang yang tentu saja salah satunya karena peran dominan dari orang-orang Tionghoa.


Tulisan ini dimuat di Pontianak Post, tanggal 9-10 September 2008.
 
Referensi :

Gung Wu, Wang. 2000. China and The Chinese Overseas. Singapore: Eastern University Press.
Liu, Wu. 2008. Bahasa Hakka di Singkawang. Jakarta: Buletin Permasis Tahun ke 2 Maret-April
Lontaan, J. U. 1975. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.
Purwanto, Hari. 2005. Orang Cina Khek dari Singkawang. Depok: Komunitas Bambu.
Setiono, Benny G. 2008. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Mengungkap Fakta Sejarah Tersembunyi Orang Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Transmedia.
Sikwan, Agus & Triastuti, Maria Rosarie Harni. 2004. Tragedi Perdagangan Amoy Singkawang. Yogyakarta: PSKK UGM – Ford Foundation.
Skinner, William G. 1981. Golongan Minoritas Tionghoa. Dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Gramedia.

Jun 10, 2008

meidy

Perbedaan Dasar Hakka-nyin dan Hokkian-lang

Pernah eggak kita bertanya seperti ini, “ Apasih bedanya Orang Hakka dengan orang Hokkian??? padahal sama-sama orang Tiongkok??? jelas beda!!!

Perbedaan mendasar antara orang Hakka dan Hokkian adalah dari segi bahasa. Bahasa orang Hokkian adalah Minnanhua [Banlam'ue] sedangkan bahasa orang Hakka adalah Kejiahua [Hakkafa]. Kedua bahasa ini berbeda cukup jauh, sehingga orang Hakka kurang bisa mengerti pembicaraan bahasa Hokkian, dan sebaliknya.

Mayoritas orang Hakka berasal dari propinsi Guangdong [Hakka: Kuongtung, Hokkian: Kngtang], dengan daerah yang dianggap 'pusat' orang Hakka di kabupaten Meixian (sekarang kota Meizhou) di Guangdong Timur Laut. Sedangkan orang Hokkian berasal dari propinsi Fujian Tenggara [Hokkian: Hokkian, Hakka: Fukkian] di Quanzhou, Zhangzhou, dan Xiamen.

Di Pulau Jawa, orang Hokkian merantau terlebih dahulu, terutama di kota2 pesisir utara Pulau Jawa. Pada kelompok pertama orang Hokkian yang merantau ke Indonesia (umumnya lelaki, jarang wanita yang ikut merantau) terjadi kawin campur dengan wanita asli Indonesia, yang kemudian menghasilkan golongan Tionghoa Peranakan.

Orang Hakka yang terlebih dahulu merantau ke Indonesia, umumnya berada di Kalimantan Barat. Orang Hakka di Bangka dan Belitung didatangkan untuk bekerja di pertambangan timah.

Di Indonesia, secara keseluruhan orang Hokkian adalah yang terbesar, kemudian diikuti oleh orang Hakka. Populasi orang Hokkian banyak di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Sedangkan orang Hakka adalah Tionghoa terbanyak di Aceh, Bangka Belitung, Kalimantan Barat. Di Pulau Jawa orang Hakka cukup banyak di Jabar (walaupun tetap lebih banyak orang Hokkian), dan sedikit di Jateng dan Jatim.

Dialek Bahasa Hakka

Dialek standard bahasa Hakka adalah dialek Meixian (nama kabupaten di Guangdong), yang sekarang disebut Meizhou shi (kota Meizhou). Pembagian sub-dialek bahasa Hakka menurut Dr. Lau Chun-fat adalah (1) Jiaying , (2) Minxi-Gannan , (3) Yuemin dan (4) Yuezhong.

Dialek Bahasa Min

Dulu bahasa Hokkian/Min dibedakan menjadi Hokkian Utara (Hokciu, Hokchnia, Hinghua) dan Hokkian Selatan (Hokkian).

Sekarang bahasa Min dibedakan menjadi: (1) Mindong (Min Timur), di Fuzhou, Fuqing , (2) Minbei (Min Utara), (3) Minzhong (Min Tengah), di Yong'an, Sanming, Shaxian. (4) PuXian (Putian dan Xianyou), di Putian, Xianyou (catatan :  sebelumnya digabungkan sebagai Mindong , (5) Minnan (Min Selatan), mencakup wilayah Quanzhou, Zhangzhou, Xiamen (ketiganya di Fujian), Chaoshan (Chaozhou dan Shantou), Leizhou di Guangdong, dan Zhejiang selatan.

 

logo
Copyright © 2008 by Arts of Meidy's.
Original Template by Clairvo