separate
logo

Jan 7, 2009

meidy

Cheng Beng (Sembahyang Kubur)

                1

                Sembahyang kubur (Cheng Beng) dikenal sebagai tradisi spesial warga Tionghoa yang sudah di kenal sejak era dinasti Ming. Cheng Beng adalah sebuah kegiatan di mana orang-orang pergi ke pemakaman keluraganya (leluhurnya),dengan membawa barang-barang yang di butuhkan untuk melakukan beberapa ritual di pemakaman di hari-hari tertentu. Ini adalah sebuah bentuk penghormatan kepada para leluhur dan juga sebagai sebuah momen untuk berdoa bagi anak-anak dan cucu-cucu agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Cheng Bneg biasanya di lakukan oleh orang-orang Tionghoa yang ber-agama Buddha, Taoisme, Khonghucu. Rtual ini di lakukan dua kali dalam satu tahun, di bulan kedua dan bulan ketujuh dalam penangalan Bulan China (Lunar Calender). Hal paling penting dalam ritual ini adalah Xao Moh (membersihkan Kuburan). Biasanya, Orang Tionghoa melakukanya jam 4 pagi. Dalam tradisi ini barang-barang yang di gunakan adalah lilin,teh, berbagai buah-buahan, seperti jeruk, pir, apel,anggur, dll, Kue-kue, baju dan uang yang terbuat dari kertas. Baju-baju dan uang=uang yang terbat dari kertas, kertas kuning, dll akan di bakar pada akhir ritual.

3 5 - Copy

Sejarah Sembahyang kubur (Cheng Beng)

             

   Suatu hari, di era Dinasti Ming, dimana ada seorang anak bernama Cu Guan Ciong yang berasal dari keluarga miskin. Untuk merawat dan mengajari dia, orang tuanya meminta bantuan kepada kuil/vihara. Ketika di dewasa, hidupnya menjadi lebih baik dan lebih baik saat dia menjadi seorang Kaisar. Setelah menjadi seorang Kaisar, dia kembali ke tanah lahirnya untuk emngunjungi orangtua nya. Tetapi orangtuanya sudah meninggal dan dia tidak tahu dimana tempat mereka di kubur. Lalu, untuk mencari makam orangtuanya di menyuruh semua penduduk untuk mengunjungi makam leluhur mereka dan membersihkanya. Disamping itu di ajuga menyuruh untuk memberi sebuah tanda, kertas kuning di atas makam-makam itu.

Setelah semua penduduk melakukanya, Kaisar memeriksa setiap makam di desa dan dia menemukan beberapa makam tidak di bersihkan dan tidak di beri tanda kertas kuning yang berarti adalah makam kedua orangtuanya. Jadi dari sanalah, ritual ini menjadi sebuah tradisi yang dilakukan semua warga tionghoa sampai sekarang.

20110329025051ritualchengbeng270311-2

Warga Tionghoa Singkawang gelar "cheng beng"

Ratusan warga Tionghoa Kota Singkawang menggelar sembahyang "Cheng Beng" atau berziarah ke makam orang tua, keluarga maupun leluhur mereka yang telah wafat untuk mengingat segala jasa-jasa almarhum-almarhumah yang telah wafat.

Liu Jun Liong (46) salah seorang peziarah di komplek pemakaman Tionghoa Pokok Manggis, di Singkawang, Rabu, mengatakan ia dan keluarganya setiap tahun melakukan ziarah ke makam leluhurnya.

"Walaupun di dunia sudah lama tiada, namun orangtua dan leluhur masih hidup di alam sana. Mereka tetap melihat kami yang masih hidup di dunia sehingga sebagai anak wajib memberikan rasa hormat dan bakti kepada orang tua," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Tao Indonesia (MTI) Kota Singkawang Tjhai Ket Khiong menyatakan, sembahyang "Cheng Beng" merupakan sembahyang wajib bagi seluruh masyarakat Tionghoa untuk mengenang kembali kebajikan dan memberikan penghormatan, baik kepada orangtua maupun para leluhur.

Ia menjelaskan, prosesi sembahyang Cheng Beng dimulai dengan menyalakan sepasang lilin dan dupa, kemudian dilanjutkan dengan berlutut dan berdoa.

Pembacaan doa ditujukan kepada Dewa Bumi (Thu Thi Pak Kung) yang menyatakan bahwa, pihak keluarga sudah datang ke makam leluhur untuk bersembahyang. Setelah itu, barulah bersembahyang di makam leluhur atau orang tua dan memanjatkan doa.

Peziarah yang datang bersembahyang terlebih dahulu sudah membawa aneka perbekalan, diantaranya aneka jenis kue, buah-buahan dan makanan vegetarian, serta tidak ketinggalan membawa kertas sembahyang berwarna emas dan perak untuk menerangi roh leluhur.

"Umumnya doa yang dipanjatkan berupa berkah kesehatan, keselamatan dan keluarga aman sentosa, ada juga yang memanjatkan doa agar dipermudah rejeki dan dilancarkan usahanya, serta mendoakan arwah leluhur agar tenang dan bahagia di alam akhirat dan segera terlahir kembali di alam yang menyenangkan," ujarnya.

Kemudian, setelah melakukan sembahyang para peziarah melakukan sedekah terutama kepada orang yang telah membantu membersihkan makam atau membantu menerangkan jalannya prosesi sembahyang.

Menurut Tjhai Ket Khiong, sembahyang Cheng Beng dari sudut pandang ajaran Tao lebih mengarah pada pernyataan bakti terhadap orang tua.

Dalam budaya warga Tionghoa, ada dua kali sembahyang yang ditujukan bagi keluarga yang telah meninggal, yakni sembahyang bulan tiga yang dikenal Cheng Beng, dan sembahyang di bulan tujuh penanggalan Imlek, yang dikenal Cioko atau Chau Tu atau sembahyang yang ditujukan pada arwah terlantar.

Sumber: Harian lokal Singkawang

meidy

Hakka dan Republik Lan Fang

image

                Mengaku bangga dengan Indonesia… Meidy jadi malu. Apalagi mau bicara soal nasionalisme, rasanya nyali jadi menciut! Biasanya Meidy paling vokal, paling lantang sampai bicara kasar bila ada kesempatan dalam forum yang mendiskusikan masalah akuisisi budaya Nusantara oleh negara tetangga. Ditengah rasa bangga dan semangat menulis tentang akar kebudayaan di Kalimantan Barat khususnya Etnis Hakka, justru satu kenyataan pahit yang Meidy dapatkan dari sahabat putra asli Singkawang-Kalimantan Barat. Indonesia bakal kehilangan potongan sejarahnya! Kali ini yang mengadopsi bukan Malaysia, tapi Singapore! Ironisnya, sejarah yang bakal hilang itu justru yang sama sekali tak pernah ada dalam catatan sejarah Indonesia. Tragis! Bangsa yang besar ini dianggap tidak bisa memelihara sejarah, sampai-sampai negara lain yang harus mengadopsi dan membuat replika sejarah itu, dan justru sangat berhasil dalam prakteknya. Ya! Negara Singapore adalah replika dari sebuah republik pertama yang pernah ada di Asia, tepatnya di Nusantara, bahkan lebih dulu ada sebelum berdirinya Negara besar Amerika. REPUBLIK LAN FANG!

 image

Lo Fong Pak  (doc.pri : courtessy of rbonardy)

 

                 Jauh sebelum Indonesia terbentuk jadi sebuah negara, di bagian Barat Kalimantan (Borneo) telah berdiri sebuah bentuk republik, dan berhasil bertahan selama 110 tahun sebelum dihancurkan oleh penjajahan Belanda. Republik ini didirikan oleh orang China yang saat itu dikirim sebagai pekerja tambang, saat terjadi gold-rush di Borneo. Meskipun hanya dianggap sebuah dongeng sebelum tidur, realita yang ada menunjukkan banyak sekali jejak peninggalan republik ini yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat, dan sangat memprihatinkan, tak terawat! Inilah yang Meidy katakan sebagai IRONIS. Justru keberadaannya ramai sekali dibicarakan dalam bentuk artikel atau forum diskusi di luar negeri.

 

Adalah seorang Lo Fong Pak, prantau bersuku-bangsa Hakka dari negeri China berusia 34 tahun, yang berhasil mempersatukan 14 kongsi dagang yang terdiri dari berbagai golongan suku bangsa Hakka yang ada di Borneo, dan menamakannya dengan LAN FANG. Persatuan ini ditujukan untuk melindungi diri dari persengketaan, yang kerap terjadi, dan mengancam terpecah belahnya persatuan di daerah itu. Lan Fang sangat berhasil dan namanya kian masyhur, nama Lo Fong Pak menjadi identik dengan Lan Fang, dan keberhasilannya diakui oleh kesultanan di seluruh Kalimantan bagian Barat. Atas dasar persatuan kongsi dagang itu, berdirilah sebuah pemerintahan yang  dinamai persis seperti kongsi dagang itu, Lan Fang. Meski rakyat mendesak agar Lo Fong Pak menjadi sultan dan menjalankan kesultanan dalam pemerintahannya, Lo Fong Pak menolak, dan bersikukuh memilih bentuk republik, dengan sistem pemerintahan ‘presidential’.

 

               Melalui pemilihan umum akhirnya Lo Fong Pak terpilih menjadi presiden pertama Republik Lan Fang. Beribukota di Tung Ban Lit (Mandor) yang secara harafiah berati “Timur dengan selaksa konstitusi”. Bendera Republik Lan Fang berbentuk segi empat berwarna kuning dengan tulisan berbahasa Mandarin “Lan Fang Ta Tong Chi”. Seperti yang tertera pada tugu peringatan, Republik Lan fang berdiri pada tahun 1776, yang menjadi menarik dari keberadaan republik ini adalah, justru saat itu bentuk pemerintahan masih berupa kesultanan, dimana hukum adat masih sangat kokoh dipraktekkan. Kesultanan Bugis, Melayu dan Dayak sangat berkuasa di daerah pesisir dan daratan Kalimantan. Konsep Republik justru berhasil memperkokoh ikatan persaudaraan di daerah Kalimantan Barat.  Presiden pertama Republik Lan Fang, Lo Fong Pak wafat pada tahun 1795.

image

Tugu Monterado, Mandor (doc.pri : courtessy of rbonardy)

 

Beberapa catatan menarik tentang Republik Lan Fang, antara lain:

  • Diberlakukan sistem Pemilihan umum yang pada saat itu sama sekali belum dikenal dalam iklim pemerintahan Kesultanan di wilayah Borneo.
  • Konsep Trias Politika sudah dipraktekkan, pemerintahan dijalankan dengan mengaktifkan lembaga Legislatif, Yudikatif, dan Eksekutif.
  • Republik ini telah memiliki kitab undang-undang hukum, menjalankan sistem pertanian, membangun sarana transportasi, mengatur pertambangan menjadi lebih baik, menyelenggarakan konsep perbankan, dan mengutamakan pendidikan bagi warganya.
  • Republik Lan Fang bertahan selama 110 tahun, dan telah memilih 10 orang presiden sebagai pemimpin republik.
  • Saat Republik Lanfang memasuki usia ke-47 yang dipimpin oleh presiden ke-5, Belanda telah menguasai seluruh daratan Borneo, Lan Fang mulai kehilangan hak otonomi, dan menjadi bagian dari kolonial Belanda.
  • Saat VOC membuka kantor cabang di kota Pontianak, mulailah campur tangannya menguasai Republik, Lanfang sempat bertahan selama 4 tahun, dan akhirnya menyerah kalah. Orang-orang Republik Lan Fang banyak yang melarikan diri ke Sumatera (Malaka).

               Kini beredar rumor, bahwa Negara tetangga kita, Singapore adalah Republik Lanfang Modern, replika yang sangat pas, dan berhasil mengadopsi sistem pemerintahan Lan Fang, kenapa? Konon Lee kwan Yew sang pendiri negara kecil yang makmur ini adalah seorang keturunan pendiri Lan Fang yang berhasil lari ke Sumatera, berikut ini sekelumit bukti yang mengarah pada kebenaran berita tersebut:

_________________________

My family history in Singapore began with my paternal great-grandfather, Lee Bok Boon, a Hakka …… Lee Bok Boon was born in 1846 in the village of Tangxi in the Dabu prefecture of Guangdong …… My grandfather, Lee Hoon Leong – whom I addressed as Kung or “grandfather” in Chinese – was born in Singapore in 1871 …… My father was born in Semarang in 1903, in the Dutch East Indies.

Chua Kim Teng [LKY’s maternal grandfather] … was born in Singapore in 1865, into a Hokkien Chinese family that came from Malacca. … His first two wives had died and the third was my grandmother, Neo Ah Soon, a large, broad-shouldered Hakka from Pontianak in Dutch Borneo, who spoke the Hakka dialect and Indonesian Malay. (From Lee Kuan Yew, The Singapore Story: Memoirs of Lee)

_____________________

 

              Setelah Malaysia berhasil membangun sebuah museum yang sangat mewah, lengkap dan megah yang dinamakan Museum Kerinci, tidak heran kalau sekarang Singapore sedang merampungkan sebuah museum yang tak kalah megahnya, tak kalah lengkapnya, dan akan dinamakan MUSEUM LAN FANG. Indonesia hanya boleh gigit jari! tanpa usaha apapun, tanpa upaya apapun… Bukan tidak mungkin nanti anak cucu kita belajar sejarah Nusantara harus pergi ke Singapore, ke Malaysia.. Belanda, apakah ini yang dicita-citakan? Nusantara meluas ke seluruh pelosok dunia, karena sejarahnya dimiliki negara lain. Apa bangganya bila Meidy kini meneriakkan kalimat YANG PALING INDONESIA ??!!

 

              Keprihatinan yang sangat dalam adalah Meidy belum bisa berbuat banyak untuk Nusantara tercinta ini, Meidy belum mampu! tapi jauh di lubuk hati yang terdalam cinta ini tak akan pernah pudar, jadi Meidy akan berhenti bicara tentang nasionalisme, berhenti membicarakan cita-cita muluk tentang Nusantara. Sebagai gantinya Meidy akan berdoa di dalam hati saja. Semoga generasi penerus yang memimpin Indonesia datang dari orang-orang yang beriman, takut pada azab Tuhan yang mengerikan, memiliki cinta dan tanggung jawab besar terhadap Tanah Air yang kaya raya ini.

 

Just Intermezo:

           Meidy pribadi membenarkan negara Singapore yang bangga dan cinta terhadap sejarah besar ini, hingga mereka mau mengeluarkan biaya besar untuk membuat rekonstruksi sejarah Lan Fang, lihat apa yang diperbuat masyarakat Indonesia terhadap bukti sejarah ini.. Memang hanya sebuah TUGU, tapi sejarah besar tidak patut dirusak oleh alasan apapun! Entah karena sejarah besar ini ditorehkan oleh etnis China? I realy don’t know.. whatever the reason it’s a STUPIDITY .

 

           Sementara orang-orang luar negeri begitu antusiasnya membuat rekonstruksi, dokumentasi dan lain sebagainya tentang keberadaan seorang Lo Fong Pak, yang berhasil menorehkan sejarah besar sebuah karya dalam bentuk REPUBLIK pertama yang pernah ada, misalnya seorang Belanda yang mengabadikannya dalam sebuah novel:

 image

New Year’s Eve At Singkawang

Novel karya: Robert Van Gulik

Jan 5, 2009

meidy

Republik Pertama di Nusantara - Republik Lan Fang

Dikutip kembali oleh: Dr.Irawan/Dr.Frits Hong

Lan Fang Republic (summary from the book Hakka people - Jews of the
Orient by Kao Chung Xi)

Republik Lan Fang , demikian namanya yang pernah di bentuk oleh orang
orang Hakka dari Kwangtung pada akhir abad ke-18. Republik ini
berlangsung selama 107 tahun lamanya dan mencatat 10 presiden yang
pernah memimpin di republik yang berlokasi di Kalimantan Barat ini.

Presiden pertamanya adalah Lo Fang Pak beliau dilahirkan tahun 1738 di
Kwangtung , Mei Hsien, Shih Pik Pao pada tahun ke-3 Dynasty Ching saat
Raja Chien Long berkuasa. Beliau pernah mempunyai anak dari
perkawinannya, namun pada zaman itu tradisi Hakka tidak membawa isteri
keluar negeri.

Hijrah ke Kalimantan Barat

Lo Fang Pak mulai bertualang pada usia 34 tahun beliau pergi merantau
ke Kalimantan Barat saat ramainya orang mencari emas (Gold Rush).
Beliau menyusuri Han Jiang menuju Shantao, sepanjang pesisir Vietnam,
dan akhirnya berlabuh di Kalimantan Barat. Ketika itu Sultan
Panembahan  yang percaya bahwa orang Tionghoa adalah pekerja keras
membawa 20 pekerja Tionghoa dari Brunei. Sultan Omar di Singkawang
juga mendengar tentang ketekunan orang Tionghoa memanfaatkannya
melalui sistem kontrak lahan kepada orang Tionghoa guna membuka kawasannya

Ketika Lo Fang Pak sampai di Kalimantan Barat, Belanda belum secara
agresif merambah ke Kalimantan. Dipesisiran banyak didiami orang Jawa
dan Bugis, yang mana daerah ini dikuasai oleh Sultan, dan bagian
pedalaman didiami oleh orang Dayak, kendati batas teritorialnya tidak
jelas.

Lan Fang Kongsi

Pada permulaan tahun 1740, jumlah orang Tionghoa hanya beberapa puluh
saja disana. Pada tahun 1770 orang Tionghoa disana sudah mencapai
20.000 orang. Mereka berdatangan berdasarkan pertalian saudara,
sekampung halaman , atau sesama kumpulan. Kelompok Tionghoa ini
membentuk Kongsi (perusahaan) untuk melindungi mereka. Lo Fang Pak
diangkat menjadi ketua.

Pada tahun 1776, 14 Kongsi di satukan membentuk He Soon 14 Kongsi guna
menjaga kesatuan dari ancaman persengketaan antar kumpulan, daerah
asal, dan darah. Pada saat itu Lo Fang Pak mendirikan Lan Fang Kongsi,
kemudian menyatukan semua orang golongan Hakka di daerah yang
dinamakan San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas), dan mendirikan
kota Mem-Tau-Er sebagai markas besar dari group perusahaannya.

Berdirinya Republik Lan Fang

Lo Fang Pak mendirikan pemerintahan, dengan mengambil nama dari
perusahaannya. Pada tahun 1777 berdirilah Republik Lan Fang, 10 tahun
lebih awal dari Amerika Serikat (1787). Ketika itu banyak orang
meminta Lo Fang Pak menjadi Sultan (monarchi), tapi beliau menolak dan
tetap menempatkan dirinya sebagai Presiden dalam pemerintahan yang
bersistem republik, dan presidensil.

Zaman keemasan

Lo Fang Pak dalam masa pemerintahannya telah menjalankan system
perpajakan, dan mempunyai kitab undang undang hukum, menyelenggarakan
system pertanian dan pertambangan yang terarah, membangun jaringan
transportasi, dan mengusahakan ketahan ekonomi berdikari lengkap
dengan perbankannya. Sistem pendidikan tetap diperhatikan bahkan
semakin dikembangkan, seperti diketahui bahwa Lo Fang Pak sendiri
asalnya memang seorang guru.

Republik Lan Fang bukan hanya disegani kekuatan militernya tapi juga
keahlian mereka dalam mengusir buaya di kawasan muara kapuas. Ini
membuat para bumiputera dan hoakiau menaruh hormat kepada Presiden Lo
Fang Pak.

Kun Tien atau lazimnya disebut Pontianak sekarang yang mana terletak
di muara sungai Kapuas merupakan daerah niaga yang di kuasai oleh
Sultan Abdulrachman. Sedangkan hulu sungai Kapuas di pegang oleh
Kelompok Dayak. Kesultanan yang berbatasan dengan Kun Tien adalah
Mempawah. Sultan Kun Tien mencoba membangun istana agak ke hulu sungai
yang mana dekat dengan perbatasan Kesultanan Mempawah dan ini  memicu
perang antara kedua kesultanan. Dalam perang ini (1794) Sultan Kun
Tien dibantu oleh Lan Fang Kongsi karena kedekatan diantara mereka.

Sultan Mempawah kalah dalam perang lalu bergabung dengan Dayak dan
melakukan serangan balasan. Lo Fang Pak kembali mematahkan kekuatan
Sultan Mempawah, malah kali ini Sultan Mempawah  didesak terus ke
utara sampai Singkawang, kemudian berakhir dengan Sultan Singkawang
dan Sultan Mempawah menandatangani perjanjian perdamaian dengan Lo
Fang Pak. Segera setelah kejadian itu popularitas Lo Fang Pak melesat
dramatis, ketika itu beliau berusia 57 tahun.

Setelah itu, rakyat, dan orang Tionghoa didaerah itu bergabung dengan
Lo Fang Pak untuk mencari perlindungan, dan Sultan Kun Tien menyadari
bahwa dia tidak sanggup melawan kekuatan militer Lo Fang Pak, maka
Sultan sendiri meminta perlindungan dari Lo Fang Pak. Presiden Lo Fang
Pak wafat pada tahun 1795, beliau sempat tinggal di Borneo selama
lebih dari 20 tahun.

Tahun tahun terakhir Lan Fang

Pada saat republik Lan Fang berusia 47 tahun semasa kekuasaan
president yang ke-5, Liew tai Er, Belanda mulai menjalankan
ekspansinya di Indonesia dan mulai masuk ke Tenggara Borneo. Lama
kelamaan Lan Fang kehilangan hak otonomi-nya, dan mulai menjadi bagian
dari Hindia Belanda.

Kemudian Belanda membuka kantor kolonialnya di Kun Tien dan mencampuri
urusan Republik Lan Fang. Pada tahun 1884, Singkawang yang menolak
dijajah oleh Belanda, mendapat serangan dari Belanda dan Belanda
akhirnya menduduki Lan fang Kongsi (1885). Lan Fang sempat bertahan
dan melawan selama 4 tahun, namun berakhir dengan kekalahan dan orang
orangnya melarikan diri ke Sumatra.

Takut akan reaksi keras dari pemerintahan Ching di Tiongkok,
menyebabkan Belanda tidak pernah menyatakan menguasai Lan Fang, maka
dibiarkan salah satu dari keturunan Lan Fang menjadi pemimpin disana.
Baru setelah terbentuknya Republik of China (Cung Hwa Ming Kuok) 1911,
maka pada tahun 1912 Belanda secara resmi menyatakan menguasai daerah
itu.

Ponti San Kou Yang di China Town Singkawang

Orang orang Lan Fang yang lari ke Sumatra bergabung lagi di Medan.
Dari sana mereka menyebar ke Kuala Lumpur dan Singapura. Salah seorang
dari keturunannya adalah Lee Kuan Yew. Hakka adalah kelompok minoritas
di Singapura, namun orang Hakka memainkan peran penting dalam
mendirikan Lan Fang Kongsi yang kedua di Singapura.

Rekaman sejarah

Dari catatan sejarah Ching Dynasty, tercatat sbb: " ada suatu tempat
dimana orang Ka Yin (dari daerah Mei Hsien), menambang emas, membangun
jalan, mendirikan negaranya, setiap tahun kapal-kapal niaga-nya
berlabuh di Guang Zhou dan Chao Zhou. Dari catatan sejarah Lan Fang
Kongsi diketahui mereka setiap tahunnya melakukan kunjungan kehormatan
dengan armada dagangnya kepada Dinasti Ching, seperti yang dilakukan
juga oleh Annan (Vietnam)".

Ibu kotanya adalah Che Wan Li. Presiden The Ta Tang (Chon Chang)
terpilih melalui pemilu. Kedua presiden dan wakilnya dari Hakka dari
Ka Yin dan daerah Ta Pu. Benderanya empat persegi panjang berwarna
kuning dengan lambang dan kata kata Lan Fang Ta Tong Chi. Panji
kepresidenan berbentuk segi tiga berwarna kuning dengan kata Chuao
(Jenderal). Pejabat tingginya berpakaian ala Tiongkok kuno, sedangkan
yang berpangkat lebih rendah mengenakan pakaian ala barat.

Kabarnya di Pontianak ada prasasti kenangan yang dibuat untuk beliau ,
Juga di Mei Shien Tiongkok ada prasasti sejenis disebuah sekolah yang
dinamakan San Mei Pei Cung Shueh.

Semoga bermanfaat.

Jan 4, 2009

meidy

Menelusuri Kemolekan Singkawang

i silawang

Berkunjung ke Kalimantan Barat belum terasa lengkap bila tak menyempatkan diri singgah ke Kota Singkawang. Kota perniagaan yang terkenal dengan amoy-nya atau perempuan cantik keturunan Tionghoa ini menyimpan ragam potensi wisata untuk ditelusuri.

Keindahan alam hutan dan laut didukung mulusnya infrastruktur jalan menjadikan perjalanan darat sepanjang 145 kilometer dari Kota Pontianak menuju Singkawang berasa menyenangkan.

Kota ini tak sekadar menawarkan lanskap wisata sejarah keberadaan masyarakat keturunan China tetapi juga keindahan alam hingga wisata kuliner yang patut dicoba.

Singkawang berasal dari kata dari San Khew Jong, yang mengacu pada tata letak kota dengan perbukitan, laut, dan muara. Selain keindahan alam, keramah tamahan masyarakat Singkawang menjadikan kota ini penuh kehangatan, khususnya bagi wisatawan.

Menjadi hunian bagi sekitar 200.000 jiwa, sebagian besar (62%) populasi Singkawang adalah masyarakat keturunan China. Etnis lain tentu saja ada, seperti Melayu, Dayak, Jawa, dan lainnya.

 

7833_100428429978105_2859338_n

Julukan kota beribu Vihara memang tepat untuk Singkawang. Banyaknya vihara besar dan kecil di beberapa sudut kota menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat China mendominasi kehidupan dan budaya setempat.

Sebut saja Vihara Raya dan Vihara Chikung yang terletak di pusat kota, menjadi destinasi wisata religi dan sejarah bagi para pelancong. Keragaman etnis China mendiami Singkawang, mulai dari Hakka, Teo-chew, Hokkian, Hainan dan beberapa suku China lainnya.

Bagi pelancong domestik, kehangatan warga China yang kesehariannya mengandalkan bahasa China Hakka seakan menyambut kita pada saat berbelanja.

Menariknya, toko-toko yang ada Singkawang didominasi bangunan tua, persis seperti China Town di Singapura.

Pertokoan model ruko dengan desain bangunan zaman dulu yang sebagian masih dijaga keasliannya dapat dijumpai di Singkawang. Lanskap pusat perpelanjaan tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.

Bicara kemolekan kota, Singkawang dihiasi oleh pesona Gunung Roban yang terletak 4 km ke arah timur dari pusat kota. Sementara keaslian dan keunikan flora Raflesia dapat dijumpai di Batu Belimbing, Gunung Poteng, yang merupakan sumber mata air Singkawang.

Vila Bukit Mas yang bernuansa resor dan taman tumbuhan Bukit Bougenville yang berjarak 6 km arah selatan dari pusat kota, menjadi salah satu lokasi wisata alam favorit para pelancong.

Ingin menikmati pantai? Singkawang memiliki pantai Pasir Panjang yang dilengkapi resor untuk menginap. Pantai ini hanya berjarak sekitar 17 km dari jantung kota.

Tak hanya itu, Sungai Hangmoy yang sering dijadikan tempat mandi bagi warga China Hakka, dan Teratai Indah dengan pemandangan danau yang indah, menambah deretan tujuan rekreasi di Singkawang.

Mereka yang suka makanan China, di sinilah gudangnya. Karena memang makanan China mendominasi restoran atau warung makan biasa. Makanan unik yang bisa kita nikmati seperti rujak ju hie, rujak dengan cumi kering-salah satu jajanan terenak di Singkawang.

Ada juga tahu dengan buncis dadih, makanan favorit masyarakat Kalimantan Barat. Selain itu, ada juga kembang tahu. Ini adalah panganan tahu yang halus sekali dengan siraman saus gula, menjadikan makanan ini sangat populer

Jadi, apa lagi yang kalian tunggu??? singkawang menunggu kedatangan kalian semua!!!

meidy

Belajar Bahasa Hakka (Bagian I - Numbers)

Bahasa Hakka, pada dasarnya memiliki logat atau dialek yang hampir sama dengan
logat atau dialek Mandarin. Sebagian kosa kata Bahasa Hakka pun hampir sama
dengan kosa kata dalam Bahasa Mandarin.
Nah meidy kali ini mau ajarin angka-angka dalam bahasa Hakka.
Selamat belajar!!!
Hou / Hou Ma (Angka):
0 = Lang
1 = Jit
2 = Nyi
3 = Sam
4 = Si
5 = Ng
6 = Liuk
7 = Chit
8 = Pat
9 = Kiu
10 = Sip
Untuk angka belasan, adalah gabungan angka 10 (Sip) dengan satuan:
11 = Sip jit
12 = Sip nyi
13 = Sip sam
14 = Sip si
15 = Sip ng
16 = Sip liuk
17 = Sip chit
18 = Sip pat
19 = Sip kiu
Untuk angka puluhan seperti 20, 30, 40, 50 sampai 90 menggunakan gabungan angka
satuan dengan angka 10 (Sip):
20 = nyi sip
30 = sam sip
40 = si sip
50 = ng sip
60 = liuk sip
70 = chit sip
80 = pat sip
90 = kiu sip
Untuk angka 21-29, merupakan gabungan angka 20 (nyi sip) dengan angka satuan:
21 = nyi sip jit
22 = nyi sip nyi
23 = nyi sip sam
24 = nyi sip si
25 = nyi sip ng
26 = nyi sip liuk
27 = nyi sip chit
28 = nyi sip pat
29 = nyi sip kiu
Metode di atas dipakai untuk angka 31-39:
31 = sam sit jit
32 = sam sit nyi
33 = sam sit sam
34 = sam sit si
35 = sam sit ng
36 = sam sit liuk
37 = sam sit chit
38 = sam sit pat
39 = sam sit kiu
Untuk angka 41-49, menggunakan gabungan 40 (si sip) dengan satuan, 51-59
gabungan dari 50 (ng sip) dan satuan, dst sampai 99.
Contoh:
68 = liuk sip pat
53 = ng sip sam
47 = si sip chit
79 = chit sip kiu
82 = pat sip nyi
91 = kiu sip jit
100, 200, … = yit-pak, liong-pak,...
1000 = yit-chien
10000 = yit-wan
100000 = yit-pak-chien / sip-wan (seratus ribu ATAU sepuluh-sepuluh ribuan)
1 juta = yit-thiau
jadi,1500 = yit-chien-eng-pak
2550 = liong-chien-eng-pak-eng-sip
Udah segitu dulu, nanti Meidy ajarin lebih lanjut di Belajar Bahasa Hakka Bagian II, belajar yang rajin ya biar bisa bahasa Hakka.
logo
Copyright © 2008 by Arts of Meidy's.
Original Template by Clairvo