separate
logo

Feb 5, 2012

meidy

PERBEDAAN ANTARA KAYA DAN MISKIN

 

Pada suatu hari, Pak Suwarta, seorang pengusaha kaya raya mengajak putranya yang berusia tujuh tahun untuk berlibur dan menginap di sebuah desa selama beberapa hari. Desa itu adalah kampung halaman Pak Suwarta, tempat ia tinggal bersama orangtuanya sampai saat dirinya memutuskan merantau ke kota besar dan akhirnya meraih kesuksesan.
Pak Suwarta memang tidak datang dari keluarga kaya raya. Kampung halamannya sangat sederhana dan penduduknya kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Tujuan Pak Suwarta sesungguhnya membawa putranya itu berlibur ke desa adalah agar si buah hati dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana susahnya ia dulu harus hidup sebagai orang miskin, tak seperti yang dialami putranya kini.
Selama seminggu penuh Pak Suwarta dan putranya tinggal di desa. Mereka tinggal dan menumpang tidur di rumah Pak Karto, sahabat Pak Suwarta semasa kecil.

Rumah Pak Karto sangat sederhana; berdinding papan, berlantai semen, dan tidak berpagar. Sekitar 10 meter di belakang rumah itu terdapat sungai kecil yang mengalir dengan airnya yang jernih. Sungai itu adalah sungai yang sama yang digunakan Pak Suwarta berenang dan bermain air 30 tahun yang lalu. Sementara itu, di depan rumah Pak Karto terbentang tanah lapang yang luas, tempat anak-anak petani bermain layangan serta menggembalakan ternak.
Tak terasa, seminggu telah berlalu.

Pak Suwarta dan putranya pun harus kembali ke kota. Dalam perjalanan pulang sembari mengemudikan mobilnya, Pak Suwarta melontarkan pertanyaan kepada putranya, "Bagaimana Nak, setelah seminggu menginap di desa, apa saja yang kamu lihat dan dapatkan tentang keadaan di sana?"
Dalam hati Pak Suwarta berharap si anak bisa melihat betapa sulitnya kehidupan yang harus dijalani orang-orang miskin di desa.
Si anak pun menjawab, "Wah, luar biasa, Pa! Kolam renang kita di rumah kecil dan harus dibersihkan sekali-sekali. Kolam renang mereka panjaaaang sekali dan airnya terus mengalir." Sang anak pun melanjutkan, "Halaman rumah kita sempit dan tak bisa melihat apa-apa karena ada pagar tembok yang menjulang.

Halaman rumah mereka luaaasss sekali sejauh mata memandang dan bisa pula dipakai bermain layang-layang." "Kita harus mengantre panjang di supermarket untuk membawa pulang buah-buahan dan sayuran, sementara mereka tinggal mengambil saja dari kebun. Gratis, enggak bayar!" tambah si anak berbinar-binar.Dengan bersemangat, sang anak meneruskan omongannya, "Setiap hari Papa harus
pergi ke kantor seharian sampai malam, sementara Pak Karto bisa bermain-main dengan anaknya setiap sore. Kita harus pergi ke kebun binatang kalau mau naik hewan.

Sementara anak Pak Karto bisa naik kerbau maupun kuda setiap hari, enggak pake bayar!" serunya lagi.
Mendengar semua penjelasan itu keluar dari mulut putranya, Pak Suwarta hanya bisa terdiam. Ia tetap mengemudi mobilnya tanpa merespon kembali perkataan anaknya. Ternyata, orang-orang yang kita anggap miskin tak selalu miskin dalam hal lain. Sebaliknya, orang-orang yang kita persepsikan sebagai kaya juga tak selalu kaya dalam berbagai aspek lain dari hidupnya.

meidy

Memasukkan Unsur Tionghoa ke Dalam Pakem

ki-robbi

Aspertina - “Tok…tok…tok…tok…tok. Surep toto pitonono, Suwergine daging, rephanenggih swasono tentrem, toto hanggayuh pitono luhur, bahagyo tentrem lamun hangesti luhuring agunan…,” ucap Dalang Ki Robbi Wignya Carita setiap membuka sebuah pagelaran wayang.

Ki Robbi bukanlah dalang biasa. Mengapa? Dia merupakan salah satu dalang peranakan Tionghoa.

Ayahnya adalah The Kie Tjwan dan ibunya Lim Pong Han. Kendati berdarah Tionghoa, sejak kecil Robbi telah jatuh cinta pada wayang. Bukan orang tuanya yang memperkenalkan ia dengan wayang, melainkan pembantunya. Waktu Robbi masih kecil, sang pembantu kerap mengajaknya menonton pagelaran wayang kulit.

Itulah ihwal kecintaan Robbi pada wayang kulit. Karena cinta, sekitar 15 tahun lalu, Ki Robbi yang bernama lengkap Robbi Santoso alias The Thin Thue ini memutuskan belajar mendalang. Ia bahkan rela hijrah dari Malang, Jawa Timur, ke Solo, Jawa Tengah, demi mencapai cita-citanya. Di kota ini, ia berguru kepada Darsono, Joko Rianto, dan sejumlah dalang beken lainnya.

“Di sini saya belajar ontowocono, titi laras gending, tatakan pakeliran, sabet, dan lainnya. Sampai sekarang saya masih belajar,” ujarnya merendah, Kamis pekan lalu.

Dalam mendalang, Robbi cenderung meniru gaya almarhum Ki Nartosabdo, dalang wayang kulit legendaris asal Jawa Tengah. Kendati demikian, Robbi tetap punya ciri khas tersendiri. Di antaranya kemampuan dia menyelipkan kisah-kisah jenaka dalam bahasa China Hokian.

“Misalnya saya bilang kalau makan nasi itu bahasa Chinanya jok fan, minum air hok sue. Kalau Anda ditanya makan nasi tapi enggak minum air itu bilang saja kesereten. Kayak gitu penonton sudah pada tertawa,” ucap Robbi yang lahir di Malang, 44 tahun lalu.

Robbi rajin mempromosikan wayang kulit di komunitas peranakan Tionghoa. Di Solo, dia senantiasa mengajak sahabatnya, baik yang tengah mendirikan pabrik, acara selamatan, kawinan, atau peringatan 1.000 hari kematian untuk menggelar acara wayang.

Menurut Robbi, wayang tetap penting bukan hanya sebagai strategi pembauran etnis Tionghoa dan Jawa, tapi cerita dalam wayang juga sangat relevan dengan perilaku manusia masa kini.

“Sifat-sifat dan lakon wayang masih cocok dengan situasi sekarang. Ternyata masih ada manusia yang serakah, licik, semuanya tergambar di wayang. Teknologi boleh maju pesat, tetapi sifat manusia tetaplah sama,” katanya.

Tak hanya itu, ujar Robbi, wayang juga penting untuk melestarikan budaya. “Saya prihatin kok kebudayaan Jawa yang adiluhung, ternyata sekarang makin tersingkirkan. Orang-orang Jawa bahasa Jawanya sudah mulai hilang semua. Padahal ciri suatu bangsa kan karena bahasanya. Dibilang Jawa kalau berbahasa Jawa,” ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang onderdil sepeda motor di Solo ini.

Akulturasi

Peneliti wayang China-Jawa dari Universitas Indonesia, Dwi Woro Retno Mastuti menilai keterlibatan aktif peranakan China jadi dalang merupakan bentuk akulturasi dan memperkaya budaya Nusantara. Menurut Dwi, selain Robbi, dalang sepuh peranakan China yang juga unik adalah Widayat Djiang yang menambahkan unsur kungfu di dalam cerita wayangnya.

Ketika dikonfirmasi, Widayat Djiang alias Tjioe Bian Djiang mengaku mendapat inspirasi menambahkan unsur kungfu setiap kali mementaskan wayang. “Saya mendalang sejak umur 12 sampai sekarang 72 tahun. Penemuannya itu baru 10 tahun lalu,” kata Widayat yang mengaku memasukkan jurus-jurus kungfu karena suka film kungfu, khususnya film Bruce Lee.

“Di wayang saya buat koprol-koprol, jungkir balik mirip kungfu. Kita juga pakai drum seperti alat tabuhan ala Tionghoa. Jadi seolah-olah gerakannya seperti kungfu," kata Widayat.

Selain Robbi dan Widayat, dalang peranakan lainnya berasal dari Pemalang adalah Mangun Yuwono alias Tiongho Go Kim Yang. Darah Tionghoa Mangun (31) berasal dari ibunya, Yusaini alias Jo Sin Cu. Dari garis keturunan ayah, Mangun bisa dibilang memang penjaga tradisi wayang. “Dari kakek moyang sampai ayah saya, semuanya dalang. Saya generasi ke-10,” ucapnya bangga.

Dalam mendalang Mangun mengaku menyesuaikan dengan ritme warga Pantai Utara (Pantura). “Dalam pertunjukan saya tidak pernah bertele-tele karena khas orang Pantura itu blak-blakan, banyak gerak dan sabet,” tutur Mangun yang saat belajar dalang di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo, pernah diceletuki seorang guru, “Lha iki Cino opo biso ndalang (ini kan China, apa bisa ndalang).” Gara-gara celetukan itu Mangun merasa tertantang dan ingin membuktikan keraguan sang guru.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI), Ekotjipto mengaku mendukung perkembangan dalang peranakan. “Banyak etnis Tionghoa yang cinta budaya Jawa, bahkan kalau di wayang orang ada banyak orang Tionghoa yang mendalami masalah tari,” katanya.

Wayang hanyalah salah satu sarana kesenian yang ditempuh etnis Tionghoa untuk berakulturasi dengan budaya lokal. Kesenian lain yang menjadi sarana akulturasi warga keturunan adalah musik gambang kromong dan drama lenong yang amat populer di kalangan orang China Benteng di Jakarta pinggiran.

"Musik gambang kromong yang bertempo lambat amat disukai orang-orang tua karena tidak banyak menguras tenaga ketika ditarikan. Liriknya pun cenderung ringan dan jenaka sehingga sering mengundang senyum," kata Ikke Sarkim (40), putri bungsu legenda lenong di daerah Serpong, Sarkim (Liem Kim Siong), yang kini meneruskan usaha ayahnya yang berdiri sejak 1962.

Sumber : Aspertina

Feb 3, 2012

meidy

Penguasa Jember Pertama adalah Tionghoa Peranakan

jember

Mulanya adalah perdagangan. Lalu politik, dan hidup bersama. Orang-orang Suku Hokkian meninggalkan Tiongkok, menyebar. Sebagian menuju Indonesia, dan mendarat di Jember, Jawa Timur. Kondisi perekonomian yang berat memaksa mereka pergi.

Jember tentu bukan tempat spesifik yang mereka sasar dari awal. Jember hanyalah bagian dari sebuah rumah besar Nusantara, dan sulit memastikan kapan orang-orang Hokkian ini menapakkan kaki ke kota ini pertama kali. Akhir abad 18 dan awal 19, Jember yang merupakan distrik dari Kabupaten Puger sudah dihuni mereka. Mereka datang dari daerah Besuki, Panarukan, Pasuruan dan Surabaya. Ada pula yang datang Jawa Tengah dan dari China Daratan langsung.

Tampuk kekuasaan di Puger sempat dipegang oleh seorang China peranakan, Kiai Tumenggung Suro Adiwikrama (1795-1801). Ia digantikan menantunya, Kiai Tumenggung Surio Adiningrat (1802-1813).

Mereka adalah Keluarga Han dari Surabaya, dan memberikan jabatan-jabatan strategis kepada orang-orang Tionghoa. Jabatan-jabatan rendah diberikan kepada warga lokal pribumi. Ini menunjukkan betapa kuatnya posisi mereka secara politis.

Di sektor perdagangan, orang-orang Tionghoa menguasai perdagangan hasil bumi, pertanian, kelontong, menjadi tukang kredit, dan rentenir. Mereka menjadi perantara antara kelompok pribumi yang menjadi produsen hasil perkebunan dengan para eksportir asal Belanda.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menerapkan politik segregasi antara warga kulit putih, Tionghoa, dan pribumi di Indonesia. Goenawan Mohamad menulis: penggolongan sosial di Hindia Belanda dasarnya adalah ras, bukan agama atau lainnya.

Sejarawan dari Universitas Jember, Retno Winarni mengatakan, orang-orang Tionghoa masuk dalam kelompok masyarakat Timur Asing (Vremde Osterlingen), yang awalnya terdiri orang Jepang, Tionghoa, Arab, dan lainnya. Mereka berada di tengah-tengah struktur masyarakat masa kolonial, dijepit masyarakat Eropa di atas dan masyarakat inlander atau pribumi di bawah.

Orang-orang Tionghoa memiliki pemukiman sendiri di distrik Jember. Mereka tinggal di daerah yang sekarang dikenal sebagai daerah Pasar Tanjung, sebuah pasar induk di Jember. Setelah Jember menjadi kepatihan yang berdiri sendiri (Kepatihan Selfstandig), pemukiman mereka berada di jalan yang saat ini disebut sebagai Jalan Untung Suropati dan Samanhudi.

"Si inlander harus berada dalam kalangan inlander dan berperilaku inlander, si China harus berada dalam kalangan China dan berperilaku China...Mereka umumnya tinggal di pecinan...Untuk melintasi ghetto mereka, orang Tionghoa harus mendapatkan pas jalan yang dikeluarkan oleh kapten China," tulis Goenawan.

Memiliki strata sosial lebih tinggi daripada orang-orang inlander, membuat orang Tionghoa menjadi sasaran kebencian warga lokal. Apalagi, pemerintah Hindia Belanda memberikan kepercayaan lebih, salah satunya, pada tahun 1906, dengan memberikan kewenangan kepada sejumlah orang Tionghoa untuk menjalankan pegadaian.

Sumber: http://www.beritajatim.com/detailnews.php/2/Gaya%20Hidup/2012-01-23/124779/Penguasa_Jember_Pertama_adalah_Tionghoa_Peranakan

May 21, 2011

meidy

Bahasa Hakka Bengkayang Unik Dan Mudah Dimengerti

 

BENGKAYANG. Berbekal suara, pengusaha asli Bengkayang ini berkreasi dengan lagu berbahasa Hakka. Lagu lagu itu kini telah menyebar di Kabupaten Bengkayang dan mendapatkan sambutan baik dari warga. Bahasa Hakka Bengkayang unik dan mudah dimengerti.

Yakobus Sitolin, Anggota DPRD Bengkayang menerangkan, kami wakil rakyat akan mendukung siapapun orangnya yang ingin berbuat baik dan memajukan Bumi Sebalo, tidak memandang asal dan usul baik itu etnis maupun agama. “Andi Max perlu terorgansir dalam mengolah manajemennya, supaya tetap eksis dan membawa harum nama Bengkayang.

Bila perlu dirikan sekolah music atau mendirikan studio rekaman untuk generasi muda yang memiliki minat dan bakat di bidang tarik suara dan tarian, baik itu etinis Jawa, Dayak, Melayu, Tioghoa dan suku lainnya di BUmi Sebalo,” saran legislator dari Partai Hanura Dapil I ini ditemui di Kadin BUmi Sebalo, Senin (9/5) . Andy Max, Ketua Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Bengkayang mengatakan, punya cara lain untuk memperkenalkan Kabupaten Bengkayang, karena melalui Kadin sudah berbagai macam dilakukan untuk membawa nama harus Bumi Sebalo di Indonesia bahkan dunia.

Berbekal suara, pengusaha asli Bengkayang ini berkreasi dengan lagu berbahasa Hakka. Lagu lagu itu kini telah menyebar di Kabupaten Bengkayang dan mendapatkan sambutan baik dari warga. "Lewat lagu saya ingin memperkenalkan Bengkayang. Lagu ini menggunakan bahasa Hakka, dan Hakka di Bengkayang mempunyai keunikan tersendiri, tidak seperti di Bangka dan Belitung yang sama bahasanya tetapi logatnya berbeda," jelas Andy saat ditemui di Kantor Kadin Bengkayang, Senin (9/5).

Andy menjelaskan,bahasa Hakka dari Bengkayang yang unik karena bahasa itu mudah dikenal dan di mengerti apabila dibandingkan dengan daerah lain, ini karena Bahasa Hakka ini tidak ditemukan di daerah China. Bahasanya sudah dicampur dengan tekanan atau logat yang ada satu-satunyaada di Bumi Sebalo. Untuk memperkenalkan Hakka itu, Andy Max dengan berbekal rekomendasi dari Pemerintah Bengkayang melalui di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata membuat lirik lagu dengan bahasa Hakka.

Kini lagu lagu tersebut telah dialbumkan dan dicetak dalam seribu kepingan VCD. "Untuk awal, kita mencetak seribu keping dahalu, dan kita tidak mencari keuntungan. Dalam album perdana terdapat dua belas lagu, semuanya berbahasa Hakka.

Lagu lagu itu berjudul Mo Liong Sim, Sam Nyit,Lo Lo Sim Siang Ho, Mung, Oi Chin Mo Po Chongini.

Di Bengkayang mayoritas etnis cina kek. China khek merupakan sub suku warga tioghoa, seperti suku dayak yang sub sukunya ada dayak bakati, kanayath, benyadu, iban, dan lainnya. “Bengkayang bagaikan mutiara di dalam lumpur, bnayak pendatang yang ingin menjadi warga Bumi Sebalo. Melihat situasi dan kondisi tersebut, kenapa kita asli orang Bengkayang yang sejak lahir dan dibedarkan disini tidak mau mengembangkan bakat dan minat untuk mengharum kabupaen kita.

Mungkin orang bilang saya bermimpi, tetapi awal dari kesuksesan harus berani bermimpi dan realisasikan mimpi tersebut,” ungkapnya. Dalam waktu dekat ia akan melauncing lagu hasil karyanya sendiri. Dan ia tidak takut dibajak oleh pembajak lagu yang sudah menjamur di Indonesia.

Apr 10, 2011

meidy

Alunan Teduh Angin Selatan


              Komunitas pencinta musik tradisional China bermunculan di Jakarta. Ada yang memadukan musik China dengan musik tradisi di Indonesia. 
Petikan guzheng, instrumen berdawai 21 itu, menimbulkan bunyi gemerincing seperti air mengalir. Suaranya yang jernih dan merdu membawa keteduhan.
Gadis-gadis mengimbangi petikan guzheng dengan petikan alat musik pipa yang melankolis. Sementara itu, sejumlah pemuda menggesek erhu yang bentuknya mirip dengan biola. Suara lembut gesekan erhu terasa menyentuh jiwa.
Alunan musik tradisional China itu dimainkan Nanfeng Nusantara, salah satu komunitas pencinta musik tradisional China. Mereka terdiri dari 12 anak muda dengan rentang usia 20-22 tahun. Awal Maret lalu mereka berlatih di rumah salah seorang anggotanya, Caroline Irwan (21), di Puri Indah, Jakarta Barat.
Mereka antara lain memainkan lagu tradisional China seperti ”Tien Mimi” yang di Indonesia dikenal sebagai ”Dayung Sampan.”
Anak-anak muda ini dengan semangat menunjukkan kepiawaian memainkan alat musik tradisional Tionghoa untuk mengiringi aneka jenis lagu, seperti ”Gambang Semarang” hingga lagu ”Kopi Dangdut,” bahkan lagu berirama dan rock N’roll.


               Organisator dari Komunitas Nanfeng Nusantara, Priyanto, meyakini bahwa perpaduan antara musik tradisional Tionghoa dan musik di Indonesia akan menghasilkan warna yang indah. Priyanto telah mencoba memadukan musik tradisional Tionghoa dengan musik tradisional Betawi, gambang kromong.
Saat ini mereka mencoba menggabungkan musik tradisional Tionghoa dengan gamelan Bali. Ketika tampil di World Expo Shanghai China 2010, Nanfeng Nusantara lebih banyak menyajikan corak kebudayaan Nusantara dengan iringan musik tradisional Tionghoa. Mereka memang bertekad mengusung percampuran antara musik tradisional Tionghoa, Indonesia, dan musik modern.
Anggota Nanfeng baru belajar musik tradisional China sejak 2005 sebagai materi pelajaran ekstrakulikuler di SMA Notre Dame. Berbekal pelajaran dari guru yang didatangkan dari Tiongkok, mereka membentuk Nanfeng Nusantara pada 2007.


               Nanfeng dalam bahasa mandarin bermakna angin selatan. Itu merupakan sebutan orang Tiongkok untuk angin yang berasal dari Asia Tenggara. Nanfeng Nusantara kemudian diartikan sebagai angin yang bertiup dari kepulauan Indonesia. Hingga sekarang, Nanfeng Nusantara beranggotakan 12 anak muda dan sering tampil dalam beragam acara.
Mereka berlatih sekali dalam sepekan. Selain menyalurkan hobi, tampil memainkan musik tradisional China juga mendatangkan nilai komersial. Apalagi, hampir tiap bulan undangan pentas selalu datang. ”Melalui musik tradisional Tionghoa ini, saya merasa menemukan kembali identitas budaya Tionghoa,” kata Priyanto.
Nanfeng Nusantara tampil menghibur publik. Menurut Caroline, penonton biasanya terpaku dan jadi enggan pulang meski lagu sudah disuguhkan selama dua jam.
Kursus


          Salah satu sekolah musik di Jakarta yang khusus mengajarkan alat tradisional musik China adalah Sekolah Musik Hong Hua. Sekolah ini didirikan pada Juni 2007 di Gedung Galangan VOC dan kini telah memiliki murid lebih dari 300 orang.
Gedung Galangan VOC di Jalan Kakap Nomor 1 Kawasan Pasar Ikan, Jakarta Utara, yang berusia lebih dari 400 tahun tersebut tak pernah sepi oleh bunyi alat musik tradisional China. Seluruh pengajar merupakan sarjana lulusan akademi musik yang didatangkan dari China.
Kepala sekolah sekaligus pendiri Sekolah Hong Hua, Wu Zhangyi, pun berasal dari Provinsi Fujian, Tiongkok. Ia datang ke Indonesia pada 2007 untuk mengajar musik tradisional China. Salah satu dari empat guru musik di sekolah ini adalah Wu Xian Xian (27), puterinya yang belajar musik tradisional China sejak usia tujuh tahun.
Jumat (1/4), misalnya, Wu Xian Xian sabar menularkan keterampilan memukul yangqin. Muridnya, Dian Nita Ayu (15), tekun mengikuti aba-aba memainkan alat musik yang dijuluki sebagai piano China itu. Dalam tempo lento, yangqin juga mampu menampilkan timbre suara gemerincing seperti air mengalir.


               Orangtua Dian, Tri Sumiyati, menyaksikan anaknya yang pendiam mampu mengekspresikan perasaan lewat alat musik tradisional China. Pada International Chinese Art Festival yang beberapa waktu lalu digelar di Singapura, Dian meraih medali emas pada nomor alat musik yangqin. Sekolah Hoang Hua mengirim 11 siswa ke International Chinese Art Festival dengan mengantongi 3 emas, 2 perunggu dan sisanya perak.
Wu Zhangyi yang masih belajar bahasa Indonesia ini ingin mengajak masyarakat Indonesia menyelami keindahan seni budaya Tionghoa lewat seni musik tradisional Tiongkok. Pada umumnya, siswa yang telah mengikuti jenjang pelajaran bertahap akan mampu memainkan irama sederhana setelah sekitar satu bulan belajar. Setelah tiga bulan belajar, mereka diharapkan mampu mengalunkan musik merdu.

Sumber : Mawar Kusuma , Kompas Minggu, 10 April 2011

logo
Copyright © 2008 by Arts of Meidy's.
Original Template by Clairvo