separate
logo

Jan 28, 2010

meidy

 

 

 

Kehadiran Tatung Yang Selalu Ditunggu
Pada Perayaan Cap Go Meh
Kamis, 28 Januari 2010
Tahun baru imlek 2561 sudah di depan mata,
sama seperti di negara atau daerah yang ada
penduduk Tionghoa segala persiapan untuk
merayakannya sudah mulai dilakukan.
Sebagaimana tradisi yang telah berjalan selama
bertahun-tahun perayaan tahun baru imlek diikuti
dengan perayaan Cap Go Meh. Namun perayaan
Cap Go Meh di Kota Singkawang dirayakan
masyarakatnya lebih berbeda jika dibandingkan
dengan daerah atau negara China.

 


Cap Go Meh di Kota Singkawang yang diyakini
merupakan akulturasi antara masyarakat lokal
dengan masyarakat Tionghoa yang datang ke ke
Singkawang ratusan tahun yang lalu sehingga
nuansa perayaannya juga berbeda dengan
perayaan di negara asalnya.
Yang menjadi sentral atau fokus dalam perayaan
Cap Go Meh di Singkawang adalah kehadiran para
Tatung atau biasa juga disebut Louya. Kehadiran
mereka dalam perayaan Cap Go Meh
memberikan pemandangan yang luar biasa
sehingga sulit diukur dengan akal sehat.
Berbagai atraksi yang mereka hadirkan selama
perayaan Cap Go Meh benar-benar “Spektakuler”,
dengan atraksi yang penuh kekuatan magis
sehingga tidak mengherankan kehadiran mereka
selalu ditunggu-tunggu para wisatawan baik
nusantara maupun manca negara.
Perayaan Cap Go Meh tahun ini yang jatuh pada
tanggal 28 Pebruari 2010 juga akan diramaikan
para Tatung/Louya. Sehari sebelum perayaan Cap
Go Meh para Tatung/Louya sudah berkeliling Kota
Singkawang yang mengambarkan upaya untuk
membersihkan kampung dari pengaruh roh
jahat.

 


Pada saat Tatung/Louya berkeliling kota itulah kita
dapat menyaksikan berbagai atraksinya yang
penuh nuansa magis diiringi genderang yang
ditabuh para pengiringnya.
Sebagai informasi pada perayaan Cap Go Meh
hotel dan penginapan yang ada di Singkawang
biasanya jauh hari sebelumnya sudah habis
dipesan. Karena itu bagi anda yang ingin
menyaksikan Pertunjukan Tatung yang
Spektakuler mulai dari sekarang sudah harus
memesan hotel untuk menginap agar tidak
kehabisan tempat.(PDE)

Nov 29, 2009

meidy

Kisah Persahabatan Tikus dan kucing

Tahukah reader bagaimana asal muasal mengapa tikus dan kucing sampai hari ini bermusuhan?

Alkisah, hiduplah sepasang sahabat: seekor kucing bernama Meong dan seekor tikus bernama Mencit. Mereka selalu melakukan kegiatan bersama-sama, mencari tempat tinggal, bermain, dan mencari makan.

Musim dingin segera tiba. Kedua sahabat itu berunding bagaimana cara agar punya persediaan makanan yang cukup. Pembagian tugas pun disepakati. Mencit bertanggungjawab mengintip dapur orang untuk melihat-lihat apakah ada makanan, sedangkan Meong mendapat tugas mengangkut dan menyimpan makanan tersebut di tempat yang hanya mereka berdua saja yang tahu.

Demikianlah mereka mulai bekerja. Setelah berkeliling beberapa lama, Mencit berhasil menemukan toko yang menjual madu. Dia pun kembali ke Meong dan bersama-sama menyusun siasat. Setiap malam dari kejauhan mereka mengintai toko tersebut. Ketika situasi sudah sepi, Meong dengan gesit masuk ke toko, mengangkut, dan menyimpan madu tersebut ke dalam baskom besar di bawah altar gereja yang letaknya tidak jauh dari toko tersebut.

Suatu saat, timbullah niat culas si Meong. Dia membayangkan betapa nikmatnya menikmati madu tersebut sendirian tanpa sepengetahuan sahabatnya.

Dia pun mendatangi si tikus. "Mencit, hari ini aku absen bekerja ya, soalnya ada saudara sepupuku yang berulangtahun. Aku harus hadir karena dia sangat dekat dengan aku,dan lagi pula aku sudah berjanji Minggu lalu."

Tanpa curiga Mencit membiarkan Meong pergi. Dengan sembunyi-sembunyi si Meong pergi ke bawah altar gereja dan mencicipi madu yang sudah mereka kumpulkan. Sesudah puas dan kenyang, dia pun kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Seminggu kemudian, timbul lagi rasa ingin menikmati madu itu. Dia pun berkata,"Mencit, hari ini aku harus pergi lagi. Seorang keponakanku baru lahir dan ada syukuran untuknya. Aku harus hadir karena aku mendapat tugas memberikan kata sambutan."

Lagi-lagi Mencit membiarkan sahabatnya pergi, dan dengan leluasa Meong kembali menyantap madu.

Beberapa waktu kemudian, timbul lagi godaan. Meong pun mencari alasan baru. "Mencit, aku harus pergi lagi hari ini. Ada pesta syukuran seorang kerabatku yang memasuki rumah baru. Aku mendapat tugas sebagai penyambut tamu, dan aku mohon izin ya." Demikianlah dia pergi ke bawah altar gereja, dan kali ini menghabiskan seluruh madu yang tersisa.

Ketika musim dingin tiba, kedua sahabat ini pun mengasingkan diri ke bawah altar gereja untuk menghabiskan waktu. Tetapi alangkah kagetnya Mencit, karena ternyata madu sudah habis.

"Wah, ternyata ada pencuri. Sialan! Kita yang bekerja keras, pencuri itu dengan enaknya menghabiskan madu, "kata Meong dengan pura-pura kesal.

Tetapi Mencit berkata, "Tampaknya, pencurinya ada di dekat sini deh."

"Di mana dia? Biar kuhajar," geram si Meong bersandiwara.

"Oh, tidak perlu, karena pencuri itu kamu sendiri kan," tegas si Mencit."Bukankah waktu kamu izin pergi sebanyak tiga kali dengan alasan merayakan ulangtahun, merayakan kelahiran keponakanmu, dan syukuran rumah saudaramu, sesungguhnya kamu ke sini? Kucium sayup-sayup bau madu saat kau pulang, namun kecurigaanku waktu itu tidak terlalu besar. Namun kini aku sadar, ternyata kamu adalah teman yang tidak bisa dipercaya. Cukup sampai di sini persahabatan kita. Lebih baik jadi musuh yang terang-terangan daripada musuh yang mengenakan jubah persahabatan."

* * * *

Pesan apakah yang ingin disampaikan cerita ini? Satu kata: integritas. Integritas adalah kemampuan untuk berkomitmen, bersetia memenuhi kesepakatan demi tujuan bersama. Sama seperti Meong dan Mencit berjanji bekerjasama dengan tujuan mengumpulkan madu sebagai persiapan musim dingin, demikianlah integritas mestinya terjaga antara keduanya.

Integritas harus kita jaga dengan sepenuh hati, karena kalau tidak, akan mengakibatkan kerugian yang banyak. Dalam kisah di atas, rusaknya integritas Meong menyebabkan rusaknya perkawanan dan persahabatannya dengan Mencit yang sudah terjalin begitu akrab dan lama. Itu berarti, sekali melanggar integritas, sama saja dengan memutuskan hubungan-hubungan dengan sekeliling. Putusnya persahabatan, hilangnya pelanggan, pecahnya hubungan oran tua dan anak, atau rusaknya hubungan antara atasan dan bawahan adalah akibat hancurnya integritas.

Pelanggaran integritas menyebabkan kita menjadi manusia yang tidak lagi bisa dipercaya. Ketika membuat komitmen, ada rasa percaya bahwa dengan kerjasama tersebut akan dihasilkan manfaat yang saling menguntungkan. Namun, saat integritas dilanggar, hancurlah semuanya.

Seorang raja pernah berkata, kalau kehilangan uang, kita kehilangan sedikit; kalau kehilangan kesehatan kita kehilangan banyak; tapi kalau kehilangan integritas, kita kehilangan segalanya.

Kiranya nurani kita tetap teguh mempertahankan integritas.

Tafsir lainnya, silahkan dipetik.

Nov 14, 2009

meidy

Bekerja Sambil Kuliah??? Mungkin eggak Ya???

Bekerja merupakan rutinitas yang terkadang membuat Reader merasa seperti tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan hal lain di luar pekerjaan. Bagi Reader yang baru saja memasuki dunia kerja setelah melewati jenjang perkuliahan, tentu saja ada jenjang berikutnya yang harus dilewati dan tentunya lebih menantang dibandingkan jenjang sebelumnya.

Dalam tahap awal Reader bekerja banyak sekali hal asing yang Reader belum ketahui, untuk itu, penting adanya adaptasi dalam lingkungan kerja. Contohnya saja adaptasi dalam bertingkah laku, cara bekerja, cara berfikir, menerepakan nilai-nilai kehidupan, hingga adaptasi dalam menentukan tujuan. Semuanya memang akan terasa sangat sulit diawal, dan tidak sedikit yang mengalami stres akibat adaptasi lingkungan kerja, tetapi jangan khawatir, justru stres dapat memacu kelenjar adrenalin yang menyebabkan Reader dapat bekerja lebih keras. Dengan demikian, stres membuat Reader menjadi selangkah lebih maju. Tetapi tidak sedikit yang merasakan gagal dan pada akhirnya memutuskan untuk mengubah haluan dengan mencari pekerjaan baru. Semua pilihan ada ditangan Reader.

Reader menjalani rutinitas yang begitu panjang, mungkin sempat tersirat dibenak Reader bahwa ilmu yang Reader dapatkan dibangku sekolah dan kuliah tidak begitu banyak terpakai didalam pekerjaan Reader. Pikiran Reader tidak banyak digunakan dibandingkan dengan energi yang lebih banyak terserap dan menuntut banyak kekuatan fisik, sehingga Reader merasa otak Reader menjadi tumpul karena terjebak dengan rutinitas yang ada.

Pernahkah Reader berfikir untuk mengasah otak dan keterampilan walaupun Reader sudah bekerja seperti halnya dengan berkuliah, sedangkan hari libur hanya Sabtu dan Minggu. Sebagian orang pasti berfikir mana sempat. Sibuknya pekerjaan begitu menyita waktu, apalagi ditambahkan untuk berkuliah. Banyak program-program yang ditawarkan untuk Reader yang bekerja tetapi ingin melanjutkan kuliah, seperti kuliah ekstensi dihari Sabtu dan Minggu, master degree reguler Senin-Sabtu di malam hari, dan masih banyak lagi program yang ditawarkan oleh kampus atau Universitas yang ada. Sebelum memutuskan untuk bekerja sambil kuliah ada baiknya memikirkan beberapa hal berikut ini dengan matang :

Biaya. Budget yang Reader keluarkan sudah pasti tidak sedikit. Pikirkan banyaknya biaya kuliah yang harus dikeluarkan, perhitungkan juga biaya transport dan makan. Setelah itu, lakukanlah penghematan untuk hal yang sifatnya sekunder, agar cashflow tidak membengkak.

Kenali sistem birokrasi perusahaan. Jika Reader merupakan karyawan baru yang baru saja memulai bekerja, lebih baik Reader simpan dulu keinginan Reader untuk melanjutkan kuliah, karena saat Reader memutuskan untuk kembali kuliah Reader harus bisa melakukan negosiasi dengan pihak kantor untuk mengatur jam kuliah Reader. Awal Reader bekerja biasanya perusahaan ingin menilai seperti apa kinerja Reader dan seberapa loyal Reader dengan perusahaan. Jika baru awal saja Reader sering minta izin, bagaimana reputasi Reader bisa baik dimata perusahaan.

Pengaturan Waktu. Harus pintar dalam mengatur waktu antara padatnya jadwal pekerjaan seperti deadline, meeting, lembur dengan tugas kuliah. Buatlah jadwal kegiatan Reader sebaik mungkin. Tanamkan di dalam diri Reader prinsip kerja keras, karena tujuan kuliah juga merupakan investasi di masa yang akan datang, jadi jangan sia-siakan waktu Reader untuk hal yang tidak berguna. Tetap konsisten menjalani jadwal yang sudah Reader buat.

Buatlah Keputusan. Buatlah keyakinan dalam diri Reader bahwa pekerjaan kantor dapat di kombinasikan dengan tugas-tugas kuliah. Jika tidak, sebaiknya Reader membuat keputusan antara kerja atau kuliah. Karena keduanya sama-sama penting, jika pada akhirnya Reader harus berhenti bekerja untuk sementara waktu menyelesaikan kuliah, jangan disesali karena kuliah juga merupakan aset bagi hidup Reader. Setelah itu kejarlah ketinggalan Reader setelah Reader kembali ke dunia kerja. Jika menurut Reader pekerjaan lebih penting daripada kuliah, buatlah keputusan untuk tidak berkuliah, karena terkadang kita tidak dapat melakukan pekerjaan dalam satu waktu.

Jadi, siapkah Reader melakukan kerja sambil kuliah ?

Nov 7, 2009

meidy

Inilah Cara Ampuh Merencanakan Karir

Semua orang yang bekerja, termasuk juga Reader, menginginkan karir yang dapat berkembang dan terus mengalami kemajuan. Namun, realitanya dalam dunia kerja saat ini, banyak sekali orang yang justru gagal dalam meniti karir mereka. Kebanyakan hal ini disebabkan karena tidak ada atau kurangnya perencanaan dalam memprediksi kemajuan karir Reader ke depannya.

Jika Reader berbicara tentang karir, maka secara tidak langsung Reader membicarakan peluang. Setiap pekerjaan yang diberikan oleh atasan merupakan peluang bagi Reader untuk memberikan hasil yang maksimal dalam pekerjaan Reader. Saat atasan Reader akan memberikan penilaian yang baik itu pastinya akan menjadi sebuah peluang yang bagus untuk Reader dalam berkarir di perusahaan tempat Reader bekerja.

Dalam menghadapi perkembangan dunia kerja yang serba cepat sekarang ini, perencanaan yang matang akan sangat membantu Reader dalam membangun karir yang cemerlang. Kalau saja Reader amati lagi sekarang ini, hampir setiap orang mengerjakan pekerjaan mereka tanpa perencanaan yang jelas sehingga kebanyakan dari mereka ini tidak mengalami kemajuan selama ia bekerja dalam suatu perusahaan. Untuk itu, sudah menjadi suatu keharusan bagi Reader untuk memikirkan langkah – langkah apa saja yang akan Reader ambil demi mendapatkan peluang karir yang lebih baik lagi nantinya.

Reader bisa mulai menyusun beberapa rencana kerja dari beberapa hal kecil yang sebenarnya merupakan dasar pemikiran dalam merencankan pekerjaan Reader :

1. Tanamkan keyakinan yang kuat dalam diri Reader, bahwa seberat apapun pekerjaan yang diberikan pasti dapat Reader selesaikan dengan baik dan maksimal.

2. Kenali kemampuan dan potensi yang ada dalam diri Reader sehingga Reader bisa memprediksi, jenis pekerjaan apa yang memungkinkan Reader untuk mengeksplorasi semua potensi yang Reader miliki.

3. Amati rutinitas, perilaku, serta budaya organisasi yang ada berlaku di perusahaan Reader, khususnya pada tingkatan karyawan tempat Reader bekerja. Coba perhitungkan sebesar apa kemungkinan Reader untuk dapat mengembangkan karir.

Tentukan langkah dan strategi yang akan Reader ambil. Kumpulkan ide – ide serta pengalaman yang telah Reader dapatkan selama bekerja. Pelajari hal apa saja yang menjadi nilai tambah bagi Reader dalam bekerja dan pastikan bahwa langkah tersebut akan memberikan keuntungan bagi Reader dan perusahaan tempat Reader bekerja.

May 16, 2009

meidy

Catatan tentang Generasi Muda Tionghoa Saat Ini



Pendahuluan
Sebagaimana dipahami bahwa kehidupan orang Tionghoa di Indonesia selalu mengikuti suasana politik Indonesia. Era pra penjajahan, penjajahan, kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, era Reformasi/Pasca Orde Baru. Pada dasarnya keamanan dan rasa aman orang Tionghoa mengikuti selera penguasa pada era yang bersangkutan.
Era reformasi dimana kualitas demokrasi membaik begitu cepat ternyata membawa dampak yang positif dari sudut pembangunan rasa kebangsaan. Pada era yang lalu, hampir semua yang berbau Tionghoa dilarang, bahasa mandarin, nama tiga suku dan seterusnya. Seingat saya, alasan utama pelarangan dari penguasa waktu itu adalah keresahan masyarakat. Anehnya, begitu kita masuk pada era reformasi dan semua pelarangan itu dihapuskan, masyarakat tidak ada yang resah bahkan menerima. Paling tidak, dapat diukur dari hadirnya berbagai media massa beraksara mandarin dan tidak ada keberatan mengenai hal itu.


Generasi Muda Tionghoa
Untuk saat ini, saya mendefinisikan generasi muda Tionghoa adalah mereka yang lahir setelah berdirinya Orde Baru sampai mereka yang telah remaja saat kejatuhannya. Definisi ini tentu akan lapuk dengan sendirinya dalam beberapa tahun mendatang.
Salah satu ciri utama dari generasi muda Tionghoa saat ini adalah asing dalam menggunakan istilah Tionghoa untuk percakapan sehari-hari. Istilah itu mulai digunakan kembali oleh Habibie selaku Presiden RI setelah Kerusuhan Mei itu. Mereka dibesarkan dengan istilah “WNI Keturunan”.  Bagi Alexander Ferry waktu itu, yang kemudian menjadi pendiri dan koordinator Jaringan Tionghoa Muda, istilah Tionghoa itu “Jurasic banget”.
Sejauh saya ketahui, tidak ada literatur yang membahas mengenai keberadaan generasi muda Tionghoa. Satu satunya yang ada dan masih jauh dari selesai adalah penelitian dari Charlotte Setijadi untuk disertasi doktoralnya di La Trobe University (Australia) dengan tema “Negotiating Chineseness: Young Jakarta Chinese in post Soeharto Indonesia”. Dengan demikian terdapat kesulitan untuk mendapatkan referensi.
Oleh karena itu, catatan ini dimulai dari hal yang paling mudah ditemui, yaitu tampilnya sederetan artis Tionghoa dalam dunia entertainment Indonesia pasca reformasi. Hal ini berbeda dengan periode Orde Baru yang minim sekali dengan penampilan artis Tionghoa. Tersebutlah Delon, Agnes Monica, Olga Lydia, Leoni, Tina Toon, Thomas Nawilis, Roger Danuarta, VJ Daniel dan seterusnya. Sederatan artis ini mempunyai beberapa kesamaan diantaranya: mereka tidak menyangkal asal usul Ketionghoaannya dan tetap diterima oleh pasar. Pasar disini adalah sebuah pasar yang sangat besar yang terdiri dari ratusan juta orang non Tionghoa. Dengan kata lain, mereka tidak menjadi artis karena dukungan pasar orang Tionghoa.

 
Hal berikutnya adalah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.
Dalam pengamatan saya, perguruan tinggi swasta yang didominasi oleh mahasiswa Tionghoa tidak memproduksi dalam jumlah yang cukup banyak atas tokoh Tionghoa dalam pengertian sosial politik. Sungguhpun demikian terdapat Ulung Rusman [FORKOT/ FAMRED], Christine Susana Tjhin [CSIS] dan Wahyu Effendi [GANDI] yang lulus dari Universitas Tarumanagara..
Dilain pihak, perguruan tinggi negeri pada era Orde Baru terdapat kuota 10% untuk alokasi  mahasiswa golongan “Keturunan”. Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan pertama sejak jatuhnya Suharto, Juwono Sudarsono, menaikkan kuota itu menjadi 15%. Kenaikan kuota itu adalah bagian dari berbagai kebijakan Pemerintah diawal reformasi seperti halnya peningkatan hak atas tanah dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik tanpa pungutan, penghapusan penataran P4, pemberhentian penayangan film G30S/PKI dan seterusnya.  
Dengan kata lain keberadaan mahasiswa Tionghoa pada perguruan tinggi negeri sangat sedikit. Namun demikian, perguruan tinggi negeri lancar dalam melahirkan tokoh-tokoh muda Tionghoa. Tersebutlah Summa Mihardja [UI], Ester Jusuf [UI], Surya Tjandra [UI], Robertus Robet [UI], Hendri Kuok [UGM], Rebeka Harsono [UGM], Kristan [UNIJA d/h IKIP Jakarta], Ponidjan [IKIP Medan], Ignatius Haryanto [UI], Susanto [UnSri], Sutta Dharmasaputra [UGM], dan seterusnya. Mereka semua dilahirkan saat perguruan tinggi negeri mendapatkan subsidi penuh dari pemerintah, berbeda dengan keadaan status perguruan tinggi negeri sekarang yang mandiri dalam keuangan.  


Selain kedua hal diatas, terdapat satu hal lagi yang penting untuk diperhatikan. Yaitu, mereka yang berkesempatan menyelesaikan studi S1 di luar negeri dengan biaya sendiri [bukan bea siswa]. Sejauh pengamatan saya, hampir tidak ada dari kelompok ini yang turut dalam pergerakan komunitas Tionghoa maupun berbagai aktifitas sosial kemasyarakatan atau politik. Mereka umumnya sibuk meneruskan usaha orang tuanya dibidang industri maupun perdagangan. Ataupun, menjadi eksekutif. Apabila Hadi Soesastro dan Kwik Kian Gie adalah lulusan S1 dari luar negeri (Eropa), sosok seperti itu belum saya temui sekarang. Kelompok tersebut diatas ini tidak bisa dibilang sedikit dan mau tidak mau dapat memainkan peranan tersendiri sekalipun mereka mungkin tidak menyadarinya. Potensi jenis  ini sangat besar dan sudah harus dimulai dipikirkan untuk membinanya.
Disamping itu, terdapat berbagai kegiatan generasi muda Tionghoa yang lebih bersifat kebudayaan. Setelah reformasi mulai stabil, mereka baru bermunculan. Misalnya, unit kegiatan mahasiswa di Universitas Bina Nusantara bernama Bina Nusantara Mandarin Club [BNMC] dengan kegiatan utama dibidang kebudayaan, diantaranya menyelenggarakan kursus bahasa Mandarin. Menarik diperhatikan bahwa terdapat banyak mahasiswa non Tionghoa turut dalam kegiatan ini (sekitar 30%). Kepada mereka diberikan nama Tionghoa. Tahun 2007 juga ditandai dengan adanya kompetisi Barongsai Internasional , diselenggarakannya acara dengan nama “Chen Sing” oleh Indosiar , maupun Koko dan Cici Jakarta 2007. 


Berbagai hal tersebut diatas tentu saja adalah sebuah penelusuran amatiran dan terburu-buru. Sama sekali bukan suatu penelitian dengan metoda ilmiah. Mungkin sekali tidak dapat dianggap mewakili keberadaan Tionghoa muda secara keseluruhan, karena mungkin banyak yang belum terpantau. Tetapi demikianlah data yang ada pada saya sekarang.
Lantas, bagaimana peran generasi muda Tionghoa saat ini. Kiranya jawaban adalah bahwa peranan dari generasi muda Tionghoa saat ini adalah harus sama dengan generasi muda Indonesia yang lain. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Itu adalah prinsip dasar dari kesetaraan.
Namun demikian, terdapat karateristik tersendiri yang membuat harus adanya sedikit penanganan tersendiri. Tekanan itu begitu hebatnya dari periode Orde Baru telah membentuk karateristik tersendiri. Berbagai karateristik “minority complex” itu sudah saatnya untuk mulai diperbaiki. Diantaranya perasaan selalu siaga dan curiga, didiskriminasi dan seterusnya. Namun demikian kewaspadaan tentunya tetap harus terjaga. Masa yang indah ini bisa berakhir.


Adalah kebijakan dimasa lalu untuk menjauhkan orang Tionghoa untuk bergabung dalam struktur pemerintahan seperti birokrasi, TNI/Polri dan seterusnya. Masa lalu telah berhasil membentuk pola pikir dikalangan Tionghoa bahwa pemerintahan bukanlah tempatnya dan tempatnya adalah bidang perekonomian. Kiranya penting untuk disampaikan bahwa sebaliknya terdapat kenyataan pada masa Orde Baru dimana terdapat  banyak pengawai negeri dari kalangan Tionghoa dan beberapa diantaranya dapat menduduki jabatan sampai tingkat direktur [dibawah direktur jenderal].
Apabila dicermati lebih jauh, tidak ada yang salah kiranya apabila seseorang memilih hidupnya dibidang perekonomian. Sekalipun tidak memiliki data yang akurat, kiranya tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa orang Tionghoa berperan penting dalam membangun industri di negaranya ini. Bagaimanapun juga negara dan bangsa ini membutuhkan perekonomian yang kuat. Dan kami bangga dapat berperan besar membangun negara dalam bidang perekonomian, paling tidak dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan pajak.
Penting dipahami bahwa terdapat kesetaraan dalam menentukan pilihan profesi. Menentukan pilihan profesi dibidang ekonomi kiranya setara dan sama baiknya dengan bergabung di dalam struktur pemerintahan. Satu tidak lebih baik dari yang lain.
Tahun 2007 bagi Kepolisian Indonesia tercatat sebagai tahun dimana untuk pertama kalinya terdapat seorang taruna Tionghoa diantara 300 taruna, namanya Law Kaun Kwang alias Heppy Saputra, lulusan S1 Bina Nusantara. Hal ini disampaikan sendiri oleh Wakapolri Makbul kepada Antara.  Untuk melahirkan di Kwang yang lain, baik untuk dilakukan sosialisasi karier pada struktur pemerintahan di kantong kantong generasi muda Tionghoa, misalnya sekolah maupun kampus.


Organisasi Tionghoa


Terdapat berbagai organisasi dengan nuansa Tionghoa. Sebenarnya organisasi organisasi ini telah ada sebelumnya, termasuk pada jaman pra reformasi. Termasuk dalam pengertian organisasi Tionghoa adalah perkumpulan marga, rumah abu, rumah ibadah, budaya (barongsai, musik) maupun sosial kemasyarakatan, dan seterusnya.  
Adanya berbagai organisasi ini pada dasarnya untuk dilihat sebagai sarana dan bukan tujuan akhir. Adalah baik apabila generasi muda Tionghoa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan dan dipercaya oleh masyarakat yang bersifat umum ataupun non Tionghoa.
Berbagai sosok dapat dijadikan referensi atas karya yang pernah dibuatnya. Susanto, misalnya, dipercaya sebagai Ketua Umum dari Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern. Juga, Suma Mihardja adalah Ketua Dewan Koordinator Keluarga Besar Universitas Indonesia (KB-UI). Atau, M. Gatot yang terpilih menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (MPO) se Jakarta. Ulung Rusman, pendiri FORKOT dan FAMRED, kelompok mahasiswa demostran pada masa tumbangnya rejim yang lalu. Stanley dipercaya anggota Komnas HAM. Hendri Kuok sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum. Saya kira masih banyak yang lain.
Mereka semua hadir ditengah masyarakat, dan dipercaya, dengan tidak menyangkal keberadaan dirinya, ketionghoaannya.


Apabila keterlibatan seperti ini terus dilakukan dan dibudayakan, hal ini sedikit banyak akan berakibat positif. Minimal mengurangi gesekan-gesekan antar kelompok pada berbagai organisasi Tionghoa. Pemilihan ketua dari sebuah organisasi Tionghoa sudah pasti terdapat orang/kelompok Tionghoa yang saling berhadapan. Sering terdengar bahwa berbagai pertengkaran seperti itu berbuntut panjang. Dalam pengamatan saya, generasi senior Tionghoa sering terjebak dalam suasana seperti ini.
Dilain pihak, kepercayaan yang diberikan kepada sosok Tionghoa dari masyarakat non Tionghoa akan turut membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Konsentrasi, waktu dan tenaga yang dihabiskan pada berbagai kegiatan yang bersifat umum tadi akan menjadi jauh lebih efektif dan efisien ketimbang terlibat dalam pertengkaran internal. Pandangan negatif terhadap orang Tionghoa yang ditumbuh kembangkan di masa lalu dapat diatasi. Sejauh ini banyak sosok generasi muda Tionghoa, sebagaimana telah disebut diatas, sering “terjebak” dalam suasana ini.  
Namun demikian, tidak berarti berbagai organisasi Tionghoa kehilangan fungsi strategisnya. Berbagai organisasi Tionghoa harus tetap eksis karena ini tetap mempunyai peran penting dalam berbagai hal, diantaranya sebagai sarana membangun komunikasi dan jaringan, koordinasi, informasi, maupun menggalang dukungan. Organisasi Tionghoa harus lebih terlibat aktif dalam “Talent Scouting” dan persemaian kader muda Tionghoa. Generasi senior harus memberikan dukungan penuh dan riil kepada generasi muda yang berbakat untuk tampil dalam pentas nasional.
Penutup


Dapat disimpulkan bahwa generasi muda Tionghoa harus menyadari betul adanya perubahan jaman. Era penuh ketakutan dan tekanan sudah lewat. Bagi saya, saat ini adalah periode akhir dari era transisi. Hal ini mengingat telah banyak sekali masalah Ketionghoaan sudah dibereskan sekalipun belum semua.
Oleh karena itu, perlu terdapat pola hidup baru dikalangan generasi muda Tionghoa, yaitu bagaimana menjalani hidup merdeka sebagai warga negara.

* Disampaikan pada diskusi yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) pada tanggal 22 November 2007 bertempat di MGK, Jakarta, dengan tema “Peran Kaum Muda Tionghoa Dalam Pembangunan Bangsa”.

 

Sumber : Ivan Wibowo

logo
Copyright © 2008 by Arts of Meidy's.
Original Template by Clairvo