separate
logo

Feb 27, 2011

meidy

Chen, Pedagang Sayur yang Sejajar Dengan Bill Clinton & Jet Li

Chen Shu-chu hanyalah seorang pedagang sayur biasa yang punya kios di pasar besar Taitung County, kawasan tenggara Taiwan. Tapi, sejak majalah Time merilis daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia, perempuan 59 tahun itu mendadak tenar.

“Apa itu majalah Time? Saya tidak pernah tahu,” ujar Chen saat diwawancarai Central News Agency di kiosnya. Dia bahkan mengaku malu saat diberi tahu bahwa majalah bergengsi Amerika Serikat (AS) itu memasukkannya dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di dunia.

Ia sejajar dengan mantan Presiden AS Bill Clinton, reformis Iran Mir-Hossein Moussavi dan bintang film laga Jet Li. “Ini membuat saya malu. Tapi, terima kasih atas perhatian Anda semua,” lanjutnya.

Dalam esai yang dia tulis tentang Chen untuk Time edisi Kamis lalu, sutradara Brokeback Mountain Ang Lee menyatakan kagum pada kesederhanaan perempuan berambut sebahu tersebut. “Ini bukan tentang sesuatu yang luar biasa.

Tapi, justru tentang kesederhanaan dan kemurahan hatinya,” ungkap pria berdarah Amerika-Taiwan tersebut. Sebab, meski tidak bergelimang harta dan kemewahan, Chen selalu menyempatkan beramal.

“Uang menjadi berguna hanya jika berada di tangan orang yang membutuhkannya,” tandas Chen. Karena itu, tidak heran jika selama 17 tahun terakhir dia menyumbangkan tidak kurang dari USD 320.000 (sekitar Rp 2,8 miliar) ke yayasan-yayasan sosial.

Termasuk donasi untuk yayasan anak-anak dan panti asuhan yang besarnya masing-masing USD 32.000 (sekitar Rp 288,3 juta). Juga sumbangan senilai USD 144.000 (sekitar Rp 1,29 miliar) untuk perpustakaan sekolahnya dulu.

Namun, Chen menolak disebut sebagai dermawan. “Saya tidak pernah memberikan donasi yang nilai nominalnya sangat besar,” tandasnya, seperti dilansir Agence France-Presse, kemarin. Pekerja keras yang memiliki tiga anak angkat itu juga enggan bercerita banyak soal sumbangan-sumbangannya ke yayasan sosial.

Sebab, menurut dia, amal yang dia berikan bukan untuk dipublikasikan. “Apalagi, ini juga bukan bagian dari kompetisi,” imbuh Chen.

Perempuan yang tidak tamat sekolah dasar karena kesulitan biaya itu menekuni bisnis sayur-mayur di Pasar Taitung sejak berusia 13 tahun. Awalnya, dia hanya membantu orangtuanya yang memang pedagang sayur di sana. Kini, dialah yang mengelola kios sayur tersebut.

Selama hampir lima dekade, Chen menjadi pedagang sayur dengan jam terbang paling tinggi. Sebab, tiap hari, kiosnya lah yang buka paling pagi dan tutup paling sore.

“Mengagumkan. Tapi, di atas semua (donasi) yang sudah dia berikan itu, keteladanan lah yang menjadi sumbangan terbesarnya,” terang Time dalam pernyataan resminya tentang Chen. Sosok rendah hati itu berambisi memberikan pendidikan serta makanan dan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin.

Karena itu, wajar jika Time mencatatkan nama Chen dalam kategori pahlawan. Maret lalu, Chen juga dinobatkan sebagai satu dari 48 pahlawan amal Asia oleh majalah Forbes.

Dec 27, 2010

meidy

Etiket Bisnis Pebisnis Korea dan Jepang

Adakah beberapa dari Reader yang bekerja di perusahaan asing? Atau setidaknya selalu bertemu dengan orang asing untuk urusan bisnis dan pekerjaan? Jika ya, Reader pasti tahu betul bahwa berhadapan dengan orang asing yang berbeda kebudayaan memiliki tantangan tersendiri. Bukan hanya soal bahasa dan cara berkomunikasi yang terkadang menjadi kendala, tapi juga soal kebiasaan, adat, dan tingkah laku yang harus selalu disesuaikan. Mungkin Reader pernah mengalami kejadian unik atau memalukan berkaitan dengan cross-cultural business ini, misalnya Reader lupa tidak membungkuk ketika menyapa bos besar dari Jepang atau selalu kerepotan memenuhi permintaan atasan dari Korea yang ingin segala sesuatunya selesai dengan cepat.

Dalam menjalankan bisnis, setiap negara ternyata memiliki cara yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianutnya. Untuk bisa menjalin bisnis dengan rekan asing, terkadang Reader harus menyesuaikan diri dengan cara mereka. Bukan berarti mengubah budaya perusahaan dan kehilangan jati diri, tetapi mengetahui dan memahami etiket-etiket bisnis yang berlaku serta menerapkannya tatkala bertemu dengan orang asing sesuai dengan kebangsaannya.

Banyak panduan mengenai etiket bisnis internasional yang bisa dipelajari dan beberapa diantaranya adalah seperti dibawah ini:

Jepang.
Business card adalah hal terpenting yang harus Reader bawa ketika bertemu dengan pebisnis Jepang. Setelah Reader bertukar salam (baik dengan cara membungkuk atau berjabat tangan), berikan kartu Reader dengan cara yang sopan, yaitu memegang dengan kedua tangan. Jangan pernah melipat, mencoret-coret, memainkan, apalagi meninggalkan kartu yang Reader terima, sebab Reader akan dianggap tidak menghargai sang pemberi kartu. Simpan kartu-kartu tersebut di tempat yang pantas dan perlakukan dengan hormat. Untuk busana, gaya konservatif dan formal adalah pilihan yang pas. Untuk wanita, sebaiknya menggunakan rok daripada celana panjang. Berhati-hatilah dengan hand gesture dan ekspresi wajah, sebab bisa menimbulkan salah interpretasi. Selalu datang setidaknya 10 menit sebelum waktu pertemuan, terutama jika Reader akan bertemu dengan para bos atau eksekutif senior. Orang Jepang terkenal tepat waktu, jadi buatlah agenda rapat yang tepat waktu pula. Ketika rapat pebisnis Jepang akan mencatat apa-apa saja yang terjadi dalam rapat, maka tidak ada hal yang luput atau terlewatkan.

Korea.
Sama halnya dengan Jepang, pebisnis Korea juga menganggap business card sebagai hal yang penting dalam urusan bisnis, jadi pastikan Reader selalu membawanya. Dalam suatu pertemuan, jarang sekali Reader memperkenalkan diri langsung kepada lawan bicara, biasanya orang ketiga yang akan memperkenalkan Reader. Jika Reader lebih junior, maka Reader harus membungkuk terhadap lawan bicara yg lebih senior/posisinya lebih tinggi. Korea sangat menjunjung tinggi senioritas dan hubungan atasan dan bawahan. Sebagai bentuk penghormatan, biasanya mereka menyapa lawan bicara dengan nama jabatan/profesi/titelnya kemudian dikuti oleh nama keluarga, misalnya: Direktur Kim, Manajer Choi, atau Supervisor Lee. Atau jika Reader tidak yakin, panggil saja dengan sebutan international, misalnya Mr. Kim atau Ms/Mrs Lee. Orang Korea biasanya mengadakan pertemuan bisnis yang dibarengi dengan jamuan atau minum (beralkohol), Reader bisa mengggunakan alasan keyakinan dan kesehatan untuk menolak secara halus tawaran tersebut.

Dua negara ini merupakan negara Asia teratas yang berinvestasi di Indonesia setelah China. Mendekati pasar bebas, akan semakin banyak orang-orang asing yang masuk ke Indonesia untuk mendirikan bisnis. Hubungan kerjasama pun mau tidak mau akan semakin sering terjalin. Diperlukan pengetahuan yang luas dan kepekaan yang cukup tinggi terhadap kebiasaan dan kebudayaan negara yang akan menjadi rekan bisnis Reader. Oleh karena itu, pelajarilah lebih jauh etika-etika bisnis yang berlaku secara internasional agar pendekatan dan jalinan bisnis Reader dengan orang asing bisa berjalan dengan lancar.

Dec 25, 2010

meidy

Deadline?? It’s Just Piece of Cake

Hari ini Reader berjanji dalam hati tidak akan menunda pekerjaan dan akan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan deadline. Tapi pada kenyataannyaa hari ini Reader tetap saja pontang-panting menyelesaikan pekerjaan. Lagi-lagi Reader tetap tak bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan deadline. Selesai atau tidaknya deadline tergantung dari diri Reader yang menentukan. Deadline memang terkadang terlihat seperti mimpi buruk bagi sebagian orang karena apabila deadline tidak terpenuhi, secara otomatis akan banyak komplain yang akan menerpa Reader, selain itu nama baik Reader pun menjadi taruhannya. Agar kondisi ini tidak lagi Reader alami, lakukanlah beberapa tips berikut :

Mengatur waktu bekerja. Aturlah rentang waktu pengerjaan pekerjaan Reader, berikan jarak yang memungkinkan Reader untuk menyelesaikan, mengecek dan merevisi pekerjaan Reader sebelum deadline tiba. Berikan highlight pada tanggal deadline sebagai peringatan. Selalu ontime mengerjakan daftar pekerjaan yang telah Reader buat, selama Reader konsisten dengan waktu yang sudah diatur semua akan berjalan dengan baik.

Jangan menunda pekerjaan. Jangan sekalipun Reader menunda-nunda pekerjaan, karena sekali saja pekerjaan Reader tertunda dengan alasan sepele, semua perencanaan yang telah Reader buat tidak dapat terkontrol lagi dan target yang akan Reader capai menuju deadline meleset.

Hindari Internet !!. Kegiatan bermain internet sepanjang hari, karena saking menyenangkannya membuat Reader tak berasa betapa hal tersebut telah menyita perhatian serta waktu Reader sampai uraian tugas pun kerap terbengkalai. Nah, agar pekerjaan Reader tak terganggu, sebaiknya Reader melakukan aktifitas “berkelana” di dunia maya tersebut diwaktu jam istirahat atau lebih bagus lagi setelah jam kantor usai. Dengan begini otomatis, seluruh urusan Reader akan lebih cepat dan lancar.

Tetap semangat. Tetap semangat dan tanamkan pikiran positif di dalam benak Reader. Anggaplah bahwa sukses kecil sedang menanti di depan mata Reader. Menanamkan pikiran positif setiap kali Reader mengerjakan pekerjaan akan membantu Reader menyelesaikan pekerjaan tersebut lebih cepat karena Reader mengerjakannya dengan perasaan senang.

Pintarlah dalam memilih prioritas. Selain itu Reader juga harus pintar-pintar memilah mana sesuatu yang bersifat penting dan mendesak, dan mana yang bersifat penting tapi belum atau tidak terlalu mendesak. Cobalah untuk mengawali hari Reader dengan membuat catatan yang akan Reader lakukan hari ini. Berikan penekanan pada tiga teratas bahwa pekerjaan itulah yang akan menjadi prioritas Reader hari ini. Namun Reader harus mematuhi catatan yang telah Reader buat tersebut.

Buatlah evaluasi diri. Setelah menjalani beberapa tips di atas dengan prinsip konsisten dan masih ada pekerjaan yang tidak terselesaikan saat deadline tiba, cobalah mengevaluasi diri dengan mencari apa penyebabnya agar kondisi tidak terulang lagi.

meidy

Ketika Gaji Eggak Sebesar Top Manager

Bertahan hidup dengan gaji yang minim mungkin terdengar mustahil, karena kebutuhan manusia pasti bertambah. Dengan keadaan ekonomi yang tidak menentu dan harga kebutuhan pokok yang semakin mahal, jangankan untuk bersenang-senang, untuk membeli kebutuhan sehari-haripun masih kurang. Bagi Reader yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, tentunya harga barang lebih mahal dari kota-kota lain di Indonesia.

Dengan keadaan seperti itu, Reader harus pintar dalam mengelola penghasilan Reader. Ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu Reader agar bisa bertahan dengan gaji yang minim.

Aturlah budget Reader, pastikan pengeluaran Reader tidak melebihi pemasukan Reader. Sisakan sedikit penghasilan Reader untuk ditabung sebagai aset yang berguna di masa yang akan datang.

Kerja sampingan, jika uang di tabungan Reader mulai menipis, cara yang terbaik untuk bisa bertahan dengan gaji yang minim adalah mencari pekerjaan sampingan yang Reader kuasai. Yang penting penghasilan dari kerja sampingan tersebut bisa untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Temukan alternatif sumber makanan, bagi Reader yang mempunyai lahan kosong di halaman rumah, Reader bisa memanfaatkannya dengan menanam sayur-sayuran sebagai sumber lauk-pauk alternatif. Dengan cara ini reader tidak perlu membelinya di pasar tradisional atau di supermarket sehingga bisa mengurangi uang belanja Reader.

Berhematlah, jangan mudah tergiur dengan promo-promo yang ditawarkan oleh suatu produk dengan diskon besar, karena bisa membuat hasrat belanja Reader tak terbendung lagi.

Dec 17, 2010

meidy

Bekerja itu Bukan Hanya Sekedar Gaji

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap perusahaan atau organisasi untuk memberikan hak para pekerjanya (gaji & kompensasi) yang telah memberikan kontribusinya demi jalannya perusahaan tersebut. Banyak perusahaan besar yang memanjakan para pekerjanya dengan jumlah gaji dan kompensasi yang cukup besar agar kinerja para karyawannya terus meningkat. Namun, ada juga perusahaan yang kurang memperhatikan hal ini sehingga para pekerjanya kurang memberikan kontribusi yang berarti.

Dalam dunia kerja sekarang ini, banyak para pelaku industri yang berpreaderngan bahwa kinerja itu berkaitan erat dengan remunerasi (gaji & kompensasi), sehingga kebanyakan dari mereka menilai kemampuan para pekerjanya hanya sebatas uang. Pada akhirnya mengakibatkan para pekerja hanya memberikan kontribusinya sesuai dengan jumlah remunerasi yang didapatkannya.

Memang benar jika setiap orang yang bekerja pada suatu perusahaan harus mendapatkan timbal balik yang setimpal dengan apa yang sudah dikerjakannya, namun bukan berarti setiap apa yang Reader kerjakan harus dinilai dengan uang. Bagaimana mungkin seorang karyawan dapat memberikan kemampuannya secara maksimal jika pada praktiknya di lapangan kerja tidak didukung dengan fasilitas yang memadai?

Mungkin Reader sering melihat bahkan merasakannya langsung ketika Reader ingin menunjukan performa terbaik Reader tapi tidak mendapatkan fasilitas yang menunjang Reader untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna. Dengan begitu, Reader akan terlihat kurang produktif dan berarti semakin kecil kemungkinan Reader untuk mendapatkan kompensasi yang lebih besar lagi karena pihak manajemen perusahaan menilai Reader kurang menunjukan prestasi.

Jika mengacu pada Teori Hierarki Kebutuhan milik Abraham Maslow, maka kita akan memahami bahwa pada tingkatan tertinggi kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri semaksimal mungkin. Dalam bekerja, Reader cenderung selalu ingin menampilkan kualitas terbaik yang Reader miliki karena dengan begitu pihak manajemen perusahaan akan memberikan penilaian yang baik terhadap apa yang Reader kerjakan sehingga besar kemungkinan Reader untuk mendapatkan promosi untuk berpindah ke posisi yang jauh lebih baik lagi.

Untuk itu, perlu disadari oleh semua pihak yang berkecimpung dalam dunia kerja bahwa kinerja seseorang bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar kompensasi yang ia dapatkan, tapi juga harus didukung oleh fasilitas yang dapat menunjang setiap pekerjaannya.

logo
Copyright © 2008 by Arts of Meidy's.
Original Template by Clairvo